"Penghargaan untuk tiga wartawan ini nantinya akan diberikan langsung pada acara pelantikan pengurus baru PWI Riau di Pekanbaru, 5 November 2012 bertempat di Hotel Pangeran Pekanbaru. Ini bentuk dukungan PWI kepada perjuangan insan pers dalam mewujudkan kebebasan pers tanpa kekerasan di Indonesia," kata Sekretaris PWI Cabang Riau, Eka Putra dalam siaran pers yang diterima detikcom, Jumat (2/11/2012 di Pekanbaru.
Ketiga wartawan yang dimaksud Fakhri Rubbiyanto (kamerawan Riau Televisi), Didik Herwanto (wartawan Riau Pos), dan Rian FB Anggoro (wartawan LKBN Antara). Oleh PWI Riau, Fakhri Rubbiyanto atau yang sering dipanggil Robi, dianugerahkan "Wartawan Kesatria" sebagai penghargaan atas keberanian, dan tanggung jawabnya yang tinggi dalam meliput dan menyiarkan peristiwa jatuhnya pesawat kepada publik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Gambar dan visual yang disaksikan masyarakat luas itu adalah gambar yang diambil oleh Robi. Ditengah situasi yang tidak tidak menguntungkannya, dia berhasil menyelamatkan kaset video," kata Eka.
Robianto sempat mengalami luka memar di bagian wajah saat melawan ketika kamera video coba dirampas oleh oknum TNI AU.
Sementara Didik dan Rian diberi penghargaan "Wartawan Inspiratif". Keduanya juga mendapat tindakan kekerasan oleh aparat TNI AU yang juga harus mendapat perawatan rumah sakit. Didik adalah korban penganiayaan yang dilakukan Letkol Robert Simanjuntak yang gambar dan videonya berhasil direkam dan tersebar luas di media massa.
Dengan dengan kemampuan intelektualnya Didik bisa menyampaikan permasalahan tersebut dengan baik ke publik, melalui berbagai media lokal maupun nasional.
Rian juga mendapat perlakuan kasar perupa pukulan mengarah ke wajah dan perut oleh oknum TNI AU saat hendak mengabadikan gambar jatuhnya pesawat Superhawk di Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, pada Selasa (16/10) sekitar pukul 09.30 WIB.
Bahkan kacamata yang dikenakannya juga raib, begitu juga kamera foto miliknya rusak setelah dirampas secara paksa oleh oknum "alat negara".
"Bagi kami tindakan yang memberi maaf kepada pelaku penganiyaan Letkol Robert Simanjuntak, namun tetap bersikukuh untuk meneruskan laporan tindakan kekerasan ini ke jalur hukum adalah suatu hal yang patut kita apresiasi. Bahkan mereka tahu betul itu memiliki risiko yang tidak kecil pada dirinya, sikap inilah yang menjadi inspirasi bagi kita semua," katanya.
"Semangat ini yang kemudian membuat publik khususnya kaum pers bergejolak bersama-sama menyatukan komitmen untuk melawan kekerasan terhadap pers serta mengawal kasus ini hingga tuntas," tutup Eka.
(cha/ega)










































