"Selama kami ada di Bali Nuraga, tidak ada kejadian-kejadian seperti ini. Baru ini-ini saja," kata Jero saat berbincang dengan detikcom di lokasi pengungsian, Kamis (1/11/2012).
Terhitung olehnya, suasana mulai tidak kondusif sejak Januari 2012 lalu, ketika peristiwa bentrok antar warga terjadi di Desa Napal, Kalianda. "Jadi tanda tanya, mengapa akhir-akhir ini jadi seperti ini, padahal masalahnya justru bisa diselesaikan kekeluargaan," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu hutan belantara, pelan-pelan kami buka hutan jadi perkebunan. Desa-desa yang dekat dengan tempat kami tinggal saling membantu membuka hutan. Dari dulu tidak ada seperti ini, dulu harmonis, saling membantu," tuturnya.
Wayan Subagio (40) yang didaulat menjadi Kepala Dusun Bali Koga, Sidoharjo, ini mengaku akibat bentrokan antar warga yang beberapa kali terjadi di Kalianda dia dan warganya menjadi was-was sejak rentetan insiden bentrok antar warga terjadi di sekitarnya. Padahal, jauh hari sebelumnya, dia hidup dalam ketentraman bersama warga lainnya.
Baik Subagio atau Jero, mereka memiliki impian sama pasca bentrok antar warga terjadi Minggu (28/10) dan Senin (29/10) lalu dan menewaskan 12 warga yang bersitegang.
"Ke depan harapan bisa tentram kembali, berdampingan membangun Lampung Selatan, dan tidak terulang lagi kejadian seperti ini," ujar Subagio.
Penuturan serupa disampaikan Wayan Busanu (28) saat ditemui di pengungsian Sekolah Polisi Negara (SPN) Kemiling. "Kita maunya hidup akur, jangan seperti ada masalah kayak gini," harap Busanu.
Begitu pula dengan Wayan Sutini (40), salah satu pengungsi dari Kampung Bali Nuraga.
"Kami cuma ingin tenang dan damai hidup di kampung sini," ujar Sutini saat ditemui detikcom, Selasa (30/10/2012), lalu.
Bentrokan membuat segalanya hancur. Korban dari kedua belah pihak berjatuhan. Anak-anak tidak bisa bersekolah karena was-was dan sekolah mereka luluh lantah dirusak massa. Belum lagi nasib ribuan warga yang tidak tahu-menahu duduk persolan harus menikmati hidup di pengungsian dengan tidur beralaskan terpal dan tikar.
(ahy/mad)











































