"Mana ada dana sebesar itu, kita (MA) tidak sekaya itu, jadi tidak mungkin," kata Hatta Ali kepada wartawan di Hotel Peninsula, Manado, Kamis (1/11/2012).
Hatta Ali tidak merinci seberapa besar anggaran yang dihabiskan untuk rapat dua ribuan peserta sejak 28 Oktober 2012 lalu. Berdasarkan informasi yang didapat dari pembicaraan beberapa peserta, anggaran yang digelontorkan untuk menggelar perhelatan akbar ini mencapai Rp 25 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sambutan pidato penutupannya, mantan Ketua Muda MA Bidang Pengawasan ini mengharapkan hasil rapat jangan sampai berhenti dalam Rakernas 2012 ini. Sebab hasil pertemuan akbar ini harus menetes di titik terbawah tingkat pengadilan dan arus dipahami oleh semua hakim, panitera,dan staf.
"Topik-topik yang ada harus ditelaah dan dianalisis dan didistribusikan ke pihak-pihak yang terkait," pinta Hatta.
Hatta Ali meminta para peserta membuat timeline dan adakan monitoring dan evaluasi sehingga pelaksanaaannya sesuai harapan. Rakernas adalah jalan terpenting dalam menyatukan visi dan misi sebab Rakernas adalah contoh luar biasa dalam transfer of knowledge. Oleh sebab itu hasil Rakernas harus dipahami dari titik nol badan peradilan hingga titik teratas peradilan.
"Sepulangnya dari Rakernas ini semua peserta memiliki tugas untuk mengawasi seluruh kesepakatan. Semua peserta harus menjaga amanat dan kepercayaan negara yang telah dimandatkan dalam bentuk kesejahteraan," ujarnya.
Pria asal Sulawesi Selatan ini juga berpesan kepada seluruh hakim agar bisa menjadi manusia yang hidup untuk memanusiakan orang lain.
"Saya berharap kita semua bisa meneladani slogan kota Manado 'i tou timou tumou tou' yang artinya manusia hidup untuk memanusiakan orang lain," tutup Hatta.
(asp/asp)
