Air zam-zam menjadi salah satu buah tangan wajib bagi setiap jamaah yang kembali dari ibadah haji di Arab Saudi. Apalagi air zam-zam hanya terdapat di Arab Saudi, sehingga tidak mengherankan jika setiap jamaah haji pasti akan berupaya untuk membawanya ke Tanah Air.
Sayangnya, aturan penerbangan melarang keras penumpang membawa cairan ke dalam pesawat. Begitupun dengan maskapai Garuda Indonesia yang melarang keras jamaah haji membawa masuk air zam-zam ke dalam pesawat dalam penerbangan pulang ke Indonesia. Namun demikian, bukan berarti jamaah haji tidak akan dapat membawa oleh-oleh wajib tersebut.
"Sudah kami siapkan air zam-zam buat dibagikan nanti di embarkasi. Setiap orang dapat jatah 5 liter," jelas koordinator bagage handling Garuda Indonesia, Yudi Dewanto, di Jeddah, Arab Saudi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aturan penerbangan melarang penumpang membawa langsung air zam-zam untuk mengantisipasi bila terjadi kebocoran selama berada di udara, baik di dalam bagasi maupun kabin pesawat.
Sebetulnya bisa saja jamaah haji menenteng air zam-zam ke dalam pesawat sepanjang dikemas rapi. Jasa pengemasan khusus buat air zam-zam dengan plastik kedap udara juga tersedia di King Abdul Azis International Airport. Namun sedikit jamaah haji Indonesia yang memanfaatkan fasilitas itu karena harus mengeluarkan biaya. Umumnya mereka menyimpan air zam-zam di dalam botol bekas air mineral lalu membungkusnya dengan isolasi yang berlapis-lapis.
Namun metode kemasan demikian tetap rawan kebocoran akibat tekanan udara. Saat sweeping bagasi di bandara, petugas juga biasanya meminta agar kemasan cair dari tas atau koper untuk dikeluarkan sehingga terpaksa air zam-zam itu harus diminum hingga habis.
"Masak ditinggalin begitu saja sih? Sayang banget, ngambilnya pakai perjuangan nih," ujar Nusi, salah satu jamaah asal Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
(lh/rmd)










































