Isak tangis itu bukannya karena tak bisa lagi melaksanakan salat di Masjidil Haram atau padang Arafah. Melainkan akibat berpisah dengan barang-barangnya yang terjaring sweeping kuota bagasi.
Seperti yang dialami Nurhayati binti Nompo. Anggota jemaah haji Kloter 1 Makassar ini menangis tersedu-sedu setelah diminta oleh petugas meninggalkan sejumlah tas plastik bawaannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petugas Garuda Indonesia yang melakukan sweeping kepadanya, tidak mentah-mentah menolak. Dia meminta Nurhayati menyortir lagi barang-barang bawaan sehingga tersedia cukup tempat di tas kabin buat mainan unta plastik dan boneka bebek kuning lumayan besar ukurannya.
"Ibu, semua harus masuk dalam tas orange ini. Tolong diatur-atur lagi tempatnya biar semua bisa masuk. Makanan dan minuman bekalnya ditinggal, di pesawat kan dapat makanan," jawab si petugas dalam bahasa Bugis.
Kerepotan menyortir ulang bagasi yang hendak dibawa masuk dalam kabin pesawat dialami oleh hampir semua jemaah haji. Tidak sedikit barang bawaan yang dengan berat hati akhirnya mereka keluarkan dari tas dan tinggalkan di bandara.
Selain mainan dan makanan, juga ada payung, perlengkapan mandi, sepatu, timbangan badan, serta pakaian. Alhasil banyak tas-tas tentengan terpaksa ditinggal oleh pemiliknya karena melebihi kuota bagasi kabin.
Aturan kuota bagasi kabin khusus penerbangan haji telah seringkali disosialisasikan. Demi mencegah pesawat overload yang pengaruhi keselamatan penerbangan setiap orang hanya boleh membawa satu tas koper dengan berat maksimal 32kg masuk bagasi dan sebuah tas tentengan untuk masuk kabin.
Bahkan jemaah haji sudah pula tanda tangani surat pernyataan kesanggupan memenuhi aturan itu. Namun rasa sayang kepada kerabat membuat bawaan mereka kini jadi lebih banyak dan berat dibanding ketika berangkat haji.
"Gampangnya yang masuk kabin hanya satu tas tentengan dan satu tas pasport, yang warna orange itu. Untuk air zam-zam, dibagikan nanti di embarkasi. Setiap orang mendapat jatah 5 liter," supervisor quality exsurance haji dari Garuda Indonesia, Erick Sando.
(lh/mad)











































