Hubungan politik Ical dan JK memang menjadi sorotan publik. Ical yang sudah resmi mendeklarasikan diri sebagai capres Partai Golkar secara terang-terangan meminta JK untuk nyapres dari parpol lain. Popularitas JK yang lebih tinggi dari Ical di survei terakhir juga menimbulkan getaran politik tersendiri di internal Golkar.
Namun menurut Akbar Tandjung yang mengikuti betul pertumbuhan JK dan Ical di Golkar, hubungan keduanya secara personal cukup baik. Meskipun tak bisa dipungkiri keduanya punya ambisi politik masing-masing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun ada saatnya keduanya saling memberi pesan politik. Seperti Ical yang meminta JK nyapres dari partai lain, JK juga memberi pesan politik dengan tak hadir di Rapimnas Golkar. Padahal, JK selalu diundang di rapat-rapat penting di Golkar.
"Memang Pak JK tidak punya posisi struktural dengan partai, namun tetap diposisikan sebagai senior Golkar. Saya kira beliau selalu diundang," kata Akbar.
Akbar memahami dirinya dan JK sampai saat ini masuk dalam daftar capres terkuat di Golkar. Namun Akbar yakin sekali JK, sama dengan dirinya, juga memahami capres Golkar tak lagi bisa dinego, kecuali popularitas Ical tak kunjung naik.
"Kita tidak pernah memikirkan adanya pergantian-pergantian. Tetapi kita harus terus mencermati elektabilitas Saudara Aburizal sebagai capres. Tentu elektabilitasnya harus lebih tinggi dari Partai Golkar," ungkap Akbar yang belakangan menyayangkan Wantim Golkar tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan penting yakni penetapan caleg di Golkar ini.
Karena itu, Akbar yakin sekali seorang JK pun tak berambisi menggeser posisi Ical sebagai capres Golkar untuk saat ini. Hanya, semua sepakat, bahwa Ical harus bekerja keras.
"Memang Partai Golkar dan Saudara Aburizal harus bekerja keras, jika ingin menang di Pilpres," tegasnya.
(van/nrl)











































