Desa Rato di Kecamatan Lambu, terpaut sekitar 60 kilometer dari pusat administrasi Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Hanya saja, akses jalan ke desa ini parah. Kondisi ekonomi masyarakat juga sulit, sehingga jarang ada kurban.
"Terakhir ada kurban lima tahun lalu, dua ekor kambing dari orang Jakarta. Sekarang kami terima dua ekor sapi," kata salah seorang warga Desa Rato, Sidik, Senin (29/10/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Situasinya memang sulit. Misalnya untuk menuju Desa Kananga Kecamatan Bolo, tim distribusi hewan kurban harus berjalan kaki lagi sekitar 500 meter karena jalan rusak," kata Sunaryo Adhiatmoko, Wakil Direktur Program dan Komunikasi Daarul Qur'an.
Ada juga, lanjut Adhiatmoko, yang harus diantar lewat perjalanan laut selama dua jam, seperti Desa Kananta, Kecamatan Soromandi. Pengiriman kurban ke daerah-daerah pelosok ini salah satu ikhtiar menebar kurban agar merata dan tak terpusat di kota saja.
"Di pelosok masih banyak masjid yang belum pernah melaksanakan kurban. Habis salat Idul Adha ya sudah, tak ada prosesi kurban," terang Adhiatmoko.
Selain ke Bima, Daarul Qur'an juga mengirim hewan kurban ke masyarakat yang bermukim di pegunungan seperti Gunung Bromo, Gunung Wilis, lereng Gunung Tambora, Gunung Merbabu, dan Gunung Merapi.
"Hari ini, hari terakhir kita mengirimkan kurban. Secara keseluruhan tahun ini kita mendistribusikan 3.300 kambing dan 150 sapi di dalam negeri," kata Adhiatmoko.
(rul/mok)











































