Banyak Militer dan Intel di Penginapan Relawan di Sittwe

Laporan dari Myanmar

Banyak Militer dan Intel di Penginapan Relawan di Sittwe

- detikNews
Senin, 29 Okt 2012 19:30 WIB
Yangon - Pemerintah lokal Provinsi Rakhine menetapkan pukul 22.00 malam waktu setempat sebagai jam malam bagi masyarakat lokal Sittwe. Aparat militer dan intel juga disebar di berbagai daerah, termasuk hotel-hotel yang ditempati oleh para relawan dari luar negeri, termasuk Indonesia.

Pukul 15.00 waktu setempat, Senin (29/10/2012), Detikcom bersama rombongan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) tiba di Bandara Sittwe. Perjalanan dari Yangon menuju Sittwe ditempuh dalam 1 jam dengan menggunakan transportasi udara. Setiba di Bandara, terlihat beberapa tentara Myanmar berjaga dengan senapan di bandara dan sebuah helikopter jenis Puma juga terlihat baru saja hendak terbang dari bandara itu.

Tidak ada kesulitan untuk bisa masuk ke dalam Kota Sittwe. Namun para jurnalis harus menyembunyikan alat perekamnya seperti video dan kamera untuk menghindari kecurigaan aparat, meski telah mengantongi ijin masuk ke Myanmar dan datang ke Sittwe dengan keperluan bisnis.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lima menit setelah meninggalkan bandara, salah seorang relawan ACT, Doddy Hidayat menunjukkan sebuah perkampungan yang telah habis terbakar. "Perkampungan itu dibakar pada bulan Juni lalu," kata Doddy. Perkampungan itu berada tepat di Kota Sittwe.

Berbeda dengan bekas perkampungan yang terbakar itu, di sebelah kiri dan kanannya, para penduduk Sittwe tetap beraktivitas seperti biasanya. Toko-toko kelontong, rumah makan, pasar juga masih ramai dikunjungi oleh warga setempat.

"Tetapi pemerintah lokal menetapkan jam malam hingga pukul 22.00 di sini dan di kamp pengungsian pada pukul 19.00 malam," terangnya.

Di beberapa sudut jalan juga terlihat polisi dan militer Myanmar yang berjaga. Setelah selama 15 menit menempuh perjalanan, akhirnya detikcom dan ACT tiba di hotel. Selama dalam perjalanan, Doddy menyarankan agar kami tidak keluar dari lingkungan hotel tanpa pengawalan militer.

"Tetapi untuk keselamatan, sebaiknya tetap berada di hotel hingga besok pagi," ujarnya.

Di hotel, kami pun juga diminta berbicara hati-hati dan tidak menyinggung soal etnis Rohingya karena hal tersebut sangat sensitif, meski kami menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi. Karena banyak aparat militer yang berjaga di sekitar hotel.

"Orang-orang di hotel ini, termasuk pegawainya dapat mengerti bahasa Melayu," ucapnya.

Doddy menceritakan, dulunya ada empat jurnalis dari luar negeri yang disita perlengkapan jurnalistiknya karena ketahuan sedang melaksanakan kegiatan peliputan. "Karena di hotel ini ada intel yang menyamar sebagai OB dan informasi itu diberikan kepada pihak militer setempat," terangnya.

Doddy menunjukkan OB yang dimaksud dengan memberikan kode mengajak orang itu berbahasa melayu dan OB itu adalah seorang laki-laki yang memiliki tinggi skitar 170 cm. "Termasuk juga sopir yang mengangkut kita tadi. Dia kemungkinan intel," ucapnya.

(fiq/rmd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads