Martinus Tewas, Dini Tak Bisa Makan dan Tidur
Selasa, 14 Sep 2004 14:04 WIB
Jakarta - Martinus Sitania tewas akibat bom Kedubes Australia. Tunangan Martinus, Dini, mengalami shock berat. Sampai sekarang, Dini tidak bisa makan dan tidur. Wajar bila Dini mengalami shock berat. Pasalnya, Dini dan Martinus sebelumnya sudah berjanji sehidup semati untuk membina mahligai rumah tangga. Mereka pun sudah menjadwalkan hari baik pelaminan mereka. Rencananya, usai pemilihan presiden 20 September nanti, Dini dan Martinus akan meresmikan pertunangannya. Dan pada Januari 2005, mereka sudah berencana akan menikah. Namun, rencana keduanya hanyalah tinggal rencana. Keinginan keduanya harus terhenti, karena ledakan bom di Kedubes Australia, Kamis (9/9/2004) lalu. Martinus (29), saat bom meledak, sedang melaju dengan mengendarai sepeda motor di titik ledakan. Tubuhnya hancur berkeping-keping.Ny Suryati, ibunda Dini, termasuk orang yang paling sedih melihat nasib Martinus. Saat berada di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, bersama keluarga Martinus, Selasa (14/9/2004), Suryati tampak menangis, sedih atas kematian Martinus. Dia juga tampak shock saat ditemui wartawan. Kematian Martinus telah berdampak juga bagi putrinya, Dini. "Anak saya sampai sekarang masih shock. Dia tidak bisa makan, tidak bisa tidur. Kasihan sekali," kata Suryati terisak. Dengan meninggalnya Martinus, Suryati batal untuk melihat anaknya yang akan bertunangan dan menikah. "Padahal, saya sudah membayangkan, bagaimana kalau mereka berdua menikah, mungkin akan bahagia. Martinus anak baik, sopan, dan sayang sama keluarga," ungkapnya. Suryati bercerita, sebetulnya pada Kamis lalu, Martinus dan Dini berangkat bersama menuju tempat kerja. Memang, sudah seperti biasa, sebelum berangkat kerja, Martinus menjemput Dini. Keduanya memang satu kantor, bekerja di bengkel Tirta Agung, yang terletak di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Rumah Martinus dan Dini pun tidak terlalu jauh. Dini tinggal di jl. Arjuna IV nomor 223 Depok II, sedangkan Martinus tinggal di Kampung Bojong Lio, RT 03/20, Depok II. "Kamis itu, mereka berangkat bersama dari rumah saya pukul 07.30 WIB. Sebelum berangkat, Martinus sempat beres-beres di rumah saya. Mereka berangkat dengan sepeda motor milik saya," kaat Suryati. Menurut Suryati, Dini dan Martinus sudah kenal lama. Mereka berteman sejak kecil dan satu sekolah. Saat SMP, mereka bersekolah di SMP Budi Utomo Depok Timur dan saat SMA, bersekolah di SMA 66 Depok I. "Tapi, mereka berpacaran baru setahun lalu," kata Suryati. Suryati masih ingat pakaian Martinus saat berangkat kerja. "Saat itu, Martinus pakai jaket hitam strip putih, baju putih dan helm putih. Saya tidak punya firasat apa pun, kalau pagi itu, hari terakhir Martinus," ungkapnya sambil menangis. Setelah sampai di tempat kerja, Martinus mendapat order untuk mengambil uang ke bank di kawasan Jl. HR Rasuna Said. Sedangkan Dini bekerja di dalam bengkel seperti biasa. "Kamis siang, saya ditelepon Dini, anak saya. Dia mengkhawatirkan Martinus, karena sampai siang, tidak kembali ke kantor. Padahal, Martinus hanya diminta mengambil uang di daerah Kuningan," ungkapnya. Sampai akhirnya, Kamis malam, Martinus pun tidak kembali. Keluarga menduga Martinus kemungkinan terkena ledakan di Kedubes Australia. Pihak keluarga pun mengunjungi sejumlah RS. "Kita baru bisa pastikan pada Jumat, saat kita mendatangi RS Polri ini," ungkapnya. Martinus merupakan anak kelima dari delapan bersaudara. Menurut kakak tertuanya, William Sitania, selain bekerja di Tirta Agung, Martinus selama ini juga aktif di Angkatan muda Siliwangi (AMS), Bogor. Sedangkan sang adik, Yuliana Sitania, menilai Martinus sebagai sosok kakak yang sayang dengan adik. "Saya ini single parent. Kak Martinus yang menghidupi saya," kata dia sambil terisak. Sebelum dilakukan tes DNA, Yuliana sebenarnya sudah yakin bahwa potongan tubuh yang diperiksa di RS Polri itu adalah jenazah Martinus. "Ciri yang gampang saya ingat, Kak Martinus mempunyai kutil di pantatnya," ungkapnya. Yakob Sitania, ayah Martinus, sendiri tampak pasrah. "Saya pasrahkan semua pada Tuhan. Mungkin ini sudah jalannya. Yang harus saya lakukan sekarang, adalah memakamkan dengan sebaik-baiknya," kata Yakob. Sementara itu, Direktur Utama PT Tirta Agung Joko Winarto menilai Martinus sebagai pekerja yang rajin dan tidak neko-neko. Martinus bekerja di perusahaannya sudah tiga tahun. "Saat kejadian, dia disuruh menagih uang ke PT Adira di Pasar Minggu. Dia juga disuruh ke BCA Sentra Mulia. Setelah dari BCA itulah, dia menjadi korban," ungkap Joko. Saat terjadi ledakan bom, Martinus mengendarai sepeda motor Suzuki Tornado warna hitam B 4479 QH milik kantor. "Perusahaan akan menanggung semua biaya pemakamannya," kata Joko.
(asy/)











































