Pengungsi Asal Timor Leste di Gowa Potong Hewan Kurban

Pengungsi Asal Timor Leste di Gowa Potong Hewan Kurban

Khairul Ikhwan - detikNews
Minggu, 28 Okt 2012 21:41 WIB
Gowa, - Kegembiraan dalam merayakan Lebaran Idul Adha juga dirasakan para pengungsi asal Timor Leste di Gowa, Sulawesi Selatan. Hanya saja, mereka baru dapat memotong hewan kurban, Minggu (28/10/2012) setelah menerima donasi hewan kurban dari satu lembaga.

Para pengungsi yang berjumlah 24 keluarga itu berada di Kampung Lambengi, Desa Bontoala, Kecamatan, Pallangga, Kabupaten Gowa. Mereka merupakan korban konflik politik di Timor Timur setelah provinsi itu menjadi negara Timor Leste hasil referendum tahun 1999.

Pada Minggu pagi, mereka menyembelih seekor sapi yang dikirimkan Yayasan Daarul Qur’an. Seterusnya daging itu didistribusikan kepada keluarga para pengungsi dan juga warga kampung sekitarnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sudah lama tidak ada kurban di kampung ini. Terima kasih sudah memikirkan kami di sini, semoga tahun depan situasi akan lebih baik," kata Ben Biolo salah seorang pengungsi di Lambengi.

Sapi yang disembelih para pengungsi tersebut pada hari ini, bagian dari 25 sapi yang dikirimkan Daarul Qur’an khusus ke Kabupaten Takalar dan Kabupaten Gowa di Sulawesi Selatan. Pengiriman itu merupakan pelaksanaan program yang disebut Qurban Istimewa (Quis).

"Selain pengungsi asal Timor Leste, kurban juga dibagi ke penerima lain, seperti komunitas-komunitas petani, buruh bangunan, kaum kurang mampu, muallaf, panti asuhan, pesantren dan rumah-rumah tahfidz," kata Tarmizi, Direktur Ekskutif Yayasan Daarul Quran yang berbasis di Jakarta.

Secara keseluruhan, ujar Tarmizi, tahun ini Daarul Quran mendistribusikan kurban sebanyak 3.300 kambing dan 150 sapi di dalam negeri. Hewan kurban itu berasal dari 700 peternak yang diberdayakan lembaga tersebut, sementara distribusinya mencakup beberapa provinsi yang ada di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, serta Nusa Tenggara Barat (NTB).

Disebutkan Tarmizi, wilayah pelaksanaan kurban memang dipilih di kawasan pelosok, seperti halnya Lambengi tempat para pengungsi tersebut. Alasannya, kata dia, selain sebagai ibadah, kurban juga menjadi wahana menjalin silaturahim.

"Kami paham betul untuk makan daging bagi kebanyakan masyarakat di pelosok adalah barang mewah. Ini kesempatan sangat berharga untuk saling berbagi," sebut Tarmizi sembari menyatakan tahun depan ditargetkan ada peningkatan jumlah kurban masyarakat melalui Daarul Quran.

(rul/van)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini