SMS Bom Kedubes Masih Jadi Isu Hangat di Australia

SMS Bom Kedubes Masih Jadi Isu Hangat di Australia

- detikNews
Selasa, 14 Sep 2004 11:47 WIB
Jakarta - Hingga Selasa (14/9/2004), adanya SMS beberapa menit sebelum bom Kedubes Australia, masih jadi misteri. SMS itu bahkan masih menjadi isu hangat di Negeri Kangguru, yang pertama kali menghembuskan kasus itu.Pada hari ini, Menlu Alexander Downer menyatakan, saat ini polisi federal masih sedang menginvesigasi apakah otoritas Indonesia telah menerima peringatan lewat SMS.Sehari setelah bom meledak, PM John Howard dan Menlu Downber berbicara di depan pers bahwa polisi Indonesia menerima peringatan lewat SMS pada Kamis pagi (9/9) yang berisikan teroris mengancam menyerang sebuah kedubes Barat bila Abu Bakar Ba'asyir tidak dibebaskan dari penjara. Sekitar 45 menit setelah SMS itu, bom meledak di depan Kedubes Australia di Jl.HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel.Namun pada Senin kemarin, Komisioner Mick Keelty menyatakan bahwa aparat tidak bisa mencari jejak pesan singkat itu. Downer menyatakan, kini AFP tidak terlalu yakin dengan adanya SMS itu."Saya pikir mereka (AFP) masih menyelidikinya," kata Downer pada Radio 2UE di Sydney. "Saya rasa mereka tidak 100% yakin soal itu," sambungnya seperti dirilis The Australian hari ini.Saat merilis kabar SMS itu, Downer maupun Howard tidak mengkonfirmasinya lebih dulu. Alasannya, penting untuk memberitahukan informasi apa pun yang diterima mereka.Polisi Indonesia telah berulang kali menyangkal adanya SMS itu. Sumber SMS itu pun simpang siur. Versi pertama menyebut bahwa SMS itu diterima oleh polisi yang biasa berjaga di depan Kedubes Australia di Kuningan. Informasi lainnya, Brigjen Gorries Mere menyebutkan adanya SMS itu dalam wawancara dengan TV asing di TKP.Ketiga, SMS itu didengar oleh seorang usahawan Australia di Jakarta. Usahawan itu mendengarnya dari orang lain, orang lain itu mendengarnya dari orang lain, begitu seterusnya alias getok tular. Nah, info yang tak jelas sumbernya inilah yang kemudian dirilis oleh Howard dan Downer. (nrl/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads