Rupanya kedua balita tersebut awalnya kehilangan nafsu makan. Orang tuanya kurang memperhatikan pola makan anaknya yang tidak wajar.
"Ini sudah mau dua minggu di sini. Jadi awalnya kurus kering, cengeng, matanya sayu, saya berobat di Puskesmas Jatinegara terus dirujuk ke sini. Kata dokter di sini berat badannya nggak sesuai umurnya, kadar gulanya kurang, tapi sekarang sudah segeran, badannya sudah berisi. Tadinya lesu amat," kata Fitriani (32), ibu Hanafi, kepada detikcom di ruang perawatan balita Puskesmas Tebet, Jl Prof Dr Soepomo, Jakarta Selatan, Kamis (25/10/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia nggak mau makan, ibunya malas juga sih ngasih makan. Saya bikinin makanan tapi dia ngelak terus. Dikasih bubur dikeluarin lagi. Saya pikir anaknya nggak mau makan, ya sudah saya biarin saja. Cuma ASI sama air putih saja," katanya sambil senyum-senyum seraya menghibur anaknya yang sedang memainkan timbangan.
Dia lega sekarang kondisi anaknya mulai pulih. "Sekarang di Puskesmas ini dikasih susu 4 jam sekali. Terus dua hari terakhir juga dikasih biskuit," katanya.
Ayah Hanafi adalah pedagang kaki lima di Jatinegara. Sementara Fitriani sebenarnya hanya fokus mengurus 5 anaknya yang masih kecil-kecil.
Sementara Jumilah (32), orang tua Citra, balita gizi buruk lainnya, yang tinggal di kawasan Matraman, Jakarta Timur, juga mulai lega lantaran hasil rontgen anaknya mulai positif.
"Gejalanya batuk tapi di ontgen bagus hasilnya. Dia doyan cemilan tapi kalau bubur dia nggak doyan, ASI juga nggak doyan," ujar Citra yang suaminya bekerja sebagai karyawan swasta di Jl MH Thamrin, Jakarta, sambil menenangkan anaknya yang terus menangis.
(van/nrl)











































