Seruan hakim agung Prof Gayus Lumbuun yang meminta administrasi keuangan di Mahkamah Agung (MA) diaudit mendapat dukungan para hakim di berbagai daerah. Sebab para hakim di daerah merasakan hal yang lebih miris.
"Sewaktu saya bertugas di pengadilan negeri di Kalimantan, Wakil Ketua Pengadilan Negeri naik sepeda motor sedang Pansek (sekretaris-red) memakai Toyota Innova. Luar biasa," ujar seorang hakim, H, kepada detikcom, Kamis (25/10/2012).
Cerita pahit di berbagai daerah seakan tiada habis. Seperti yang diakui seorang hakim lainnya yang mengaku harus mencicil membeli laptop. Sedangkan para PNS di pengadilan negeri mendapat fasilitas laptop gratis dari negara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang hakim lainnya, N, mengaku selalu dalam kondisi melarat karena selalu hidup nomaden/berpindah-pindah disebabkan mutasi berkala. Setiap kali mutasi harus mencari rumah sendiri dan mencari kendaraan sendiri. Terkadang juga harus naik ojek/angkot karena tidak memiliki kendaraan.
"Sedangkan PNS yang bertugas untuk membantu organ inti malah hampir semuanya memiliki kendaraan dinas. Sungguh sangat miris," tandas N.
Seperti diketahui, Gayus Lumbuun berbicara blak-blakan jika hakim agung di MA menjadi warga kelas dua. "Kesan di MA yaitu para hakim agung adalah penghuni kelas dua di bawah PNS-PNS eselon I dan eselon II. Bahkan staf biasa memegang peran penting administrasi dan keuangan di MA," kata Gayus.
Atas tudingan ini, Sekretaris MA Nurhadi membantah semua pernyataan Gayus. "Saya nggak pernah takut sama siapa pun, karena saya clean. Saya nggak peduli, saya labrak betul (Gayus Lumbuun) karena saya clean. Saya jamin satu rupiah pun saya tidak punya pikiran untuk main-main terutama dalam anggaran. Kalau eselon I ketahuan (korupsi) sama saya, saya amputasi," kata Nurhadi saat ditemui wartawan di ruang kerjanya.
(asp/nrl)










































