6 Keluhan Spontan Warga DKI pada Jokowi

Hari ke-9 Jokowi

6 Keluhan Spontan Warga DKI pada Jokowi

Rachmadin Ismail - detikNews
Rabu, 24 Okt 2012 13:01 WIB
6 Keluhan Spontan Warga DKI pada Jokowi
Jakarta - Meski baru 9 hari menjabat, Gubernur DKI Joko Widodo sudah menerima banyak keluhan warga soal permasalahan di DKI Jakarta. Aduannya cukup bervariasi, mulai dari persoalan pendidikan hingga kependudukan.

Dalam catatan detikcom, sedikitnya ada enam keluhan yang disampaikan langsung warga DKI secara spontan kepada Jokowi. Sebagian besar dari mereka, mendapat respons cukup positif dari orang nomor 1 di Jakarta itu.

Berikut enam keluhan spontan warga seperti dirangkum detikcom, Rabu (24/10/2012):

Keluhan Ibu Tua

Di hari pertama bertugas, Jokowi langsung mendapat 'tamu' seorang ibu tua bernama Eka Astuti di Balai Kota. Sambil menangis, dia menyerahkan sepucuk surat berisi permintaan bantuan kepada mantan Wali Kota Solo itu.

Kedatangan Eka ke Balai Kota adalah untuk meminta bantuan Jokowi terkait kasus hukum yang membuat anaknya, Teguh Budiono, dipenjara.

Jokowi pun menyambutnya dengan baik di Balai Kota. Setelah berbincang selama beberapa lama, Eka akhirnya pulang dengan harapan baru: Jokowi bisa menolong anaknya.

Keluhan Masuk SMA Rp 40 Juta dari Maulana

Maulana (50) memanggil-manggil nama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) yang akan memasuki mobil usai sidak di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Jokowi pun menoleh dan mendengarkan curhat Maulana yang anaknya masuk SMA dengan biaya fantastis.

"Pak Jokowi, Pak Jokowi! Anak saya masuk SMA 13, biayanya Rp 40 juta," teriak Maulana.

Jokowi yang sedang berjalan kaki usai sidak dan semula tidak mendengar ada yang memanggilnya, lalu menghentikan langkahnya. Dia pun menoleh ke arah belakang dan mendengarkan curahan hati Maulana.

Lantas Jokowi menyuruh ajudan yang merangkap asisten untuk mencatat keluhan Maulana. Sementara Jokowi masuk ke mobil yang diakuinya sebagai mobil sewaan.

Setelah selesai, Maulana mengucapkan terima kasih. Mobil Jokowi pun melaju. Dua motor Vooridjer Dishub DKI mengikuti dari belakang.

Harapan di Kota Tua

Para pengunjung wisata Kota Tua, Jakarta Barat, punya harapan tersendiri pada Gubernur DKI Jokowi. Mereka meminta agar Jokowi bisa menyelesaikan kesemrawutan di kota Tua. Pedagang dan sampah di mana-mana.

Kota Tua pun menunggu penataan dari sang gubernur. Sebagai langkah awal, Jokowi yang dikenal rajin menyambangi kampung-kampung di Jakarta, pun diminta tak sungkan singgah di Kota Tua. Sekedar menengok kawasan wisata rakyat ini.

"Pak Jokowi mudah-mudahan bisa datang ke sini dan liat sendiri, biar tahu kondisinya. Dia kan suka tuh datang-datang langsung kunjungan-kunjungan, aku liat di TV. Ya semoga saja bisa dibagusin secepatnya. Disediakan sarana-sarananya kayak tempat sampah tadi dan lain-lain," kata Ratih, mahasiswi pengunjung Kota Tua.

Permintaan Warga Kampung Pulo

Warga di Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, langganan menjadi korban banjir. Namun mereka menolak bila dipindahkan ke rusun, bila diminta Pemprov DKI.

Sunarya, salah seorang warga berharap, Kali Ciliwung dikeruk. Sampah-sampah di sekitar kali dibersihkan.

Saiful, warga RT 16 RW 3 Kampung Pulo, berharap, Kali Ciliwung dikeruk setelah kedatangan Jokowi. Saiful menolak dipindahkan karena sudah sekitar 40 tahun tinggal di kawasan tersebut.

"Saya udah kerasan di sini, walaupun tiap tahun kena banjir kita tenang saja, sudah biasa," kata Saiful.

Kampung Pulo kerap menjadi korban banjir kiriman dari Bogor. Kadang tingginya, bisa mencapai sepinggang orang dewasa.

Teddy Berharap Tak Dipenjarakan

Ketua RT 014/06 Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, Teddy Sandita datang ke Balai Kota bersama istrinya, Cong Lie Siu dan rekannya Suherman. Mereka mengadu agar tak dipenjarakan.

"Ini surat, saya mau dipenjara. Tolonglah Pak," pinta Cong Lie Siu.

Melalui surat yang disampaikan Cong Lie Siu, kasus ini adalah permasalahan tanah di tahun 2010. Saat itu ada tanah yang tidak bertuan. Salah satu warga RT 014/06 di Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, mengklaim tanah itu miliknya.

Menjadi janggal karena klaim itu tidak disertai dengan surat pengesahan dari Kelurahan, RT, RW hingga notaris. Kepemilikan itu hanya berdasarkan surat jual beli saja.

Orang tersebut kemudian memagari tanah dengan seng serta pintu semi permanen. Teddy Sandita, Cong Lie Siu dan Suherman pun dilaporkan ke polisi sebagai provokator penolakan warga.

Keluhan Sewa Kios di Pasar Senen

Saat blusukan di Pasar Senen, Jokowi dielu-elukan pedagang. Namun dia juga dicurhati soal harga sewa kios yang mahal.

"Ada masalah apa?," kata Jokowi yang mengenakan seragam dinas warna cokelat ini.

Si petugas lalu menjawab masalah yang dialami mayoritas pedagang, yakni seputar harga sewa kios yang tinggi.

"Masalahnya paling harga sewa kios, Pak. Harganya Rp 115 juta per meter persegi per tahun," kata petugas itu.

Suasana pasar bertambah riuh dengan sambutan antusias para pedagang yang sibuk mengambil gambar Jokowi dan meminta bersalaman.

Halaman 2 dari 7
(mad/nwk)


Berita Terkait