Iwan Harus Bermata Satu Akibat Bom Kedubes Australia
Senin, 13 Sep 2004 16:28 WIB
Jakarta - Kesedihan dan kebahagiaan berbaur datang susul menyusul. Perasaan campur aduk itu kini dirasakan Iwan Hermawan (29), korban bom di depan Kedubes Australia.Iwan gembira istri yang diboncengkannya saat bom meledak selamat dan bisa melahirkan bayi dengan normal. Namun ia sedih salah satu matanya kini tak bisa melihat lagi."Saya sudah mulai pulih. Tapi mata saya dipastikan cacat permanen," kata Iwan dengan wajah sedih saat ditemui di ruang Baiduri II RS Aini, tempat ia dirawat, Senin (13/9/2004). Saat itu, mata Iwan sebelah kanan masih ditutup perban. Mata itu terkena pecahan logam sebesar 5 centi meter akibat bom yang meledak di depan Kedubes Australia.Iwan yang sarjana komputer, saat bom meledak berada di Plaza 89 untuk mengantar Seroja Kolilah, istrinya yang tengah hamil 9 bulan kontrol ke dokter. Tak dinyana, tiba-tiba bom meledak dan menghentakkan pasangan muda itu. Iwan terkena pecahan logam di mata. Sedang Seroja terkena di dahinya. Seroja yang tak menderita luka parah akhirnya menelepon orang tua Iwan, Umi Kulsum yang berada di Brebes.Setelah orang tua Iwan datang, Seroja dipindahkan ke RS Budi Mulya Tanah Abang. Jumat (10/9/2004), istri Iwan melahirkan dengan normal. Umi Kulsum tak dapat menahan sedih atas musibah yang menimpa anaknya. Meski bisa menerima kenyataan itu, Umi berharap suatu hari mata anaknya akan kembali normal. "Saya berharap siapa saja yang berwenang bisa membantu agar mata Iwan kembali normal," kata perempuan 54 tahun itu sambil menangis.Ia juga mengharapkan bantuan agar Iwan tidak kesulitan mencari kerja akibat kondisinya. Umi menuturkan, sebelum bom meledak Iwan telah menerima tes terakhir untuk bekerja di bank Danamon cabang Semarang. "Ia sudah hampir dipastikan diterima. Tapi kalau karena kondisi ini akan menjadi lain saya meminta Ibu Mega maupun Bapak Sutiyoso dapat membantu. Mereka yang berwenang dapatlah membantu menerima Iwan dalam pencarian kerja," kata Umi penuh harap. Sebelum adanya bom, Umi merasakan seluruh tubuhnya lemas dan sangat malas melakukan kegiatan. Sedang adik Iwan, Dian Saptawati bermimpi giginya lepas dan melihat buaya di ruang santai keluarga. Mereka tak menyangka semua itu bisa menjadi firasat Iwan akan mendapat musibah.
(iy/)











































