Para Kerabat Yakin Dualisme di Kraton Surakarta Segera Berakhir

Para Kerabat Yakin Dualisme di Kraton Surakarta Segera Berakhir

- detikNews
Senin, 13 Sep 2004 13:56 WIB
Solo - Dualisme di Kraton Surakarta tetap tidak mempengaruhi dukungan para kerabat. Poppy Dharsono dan Kusumo Hamidjojo tetap mendukung Tedjowulan sebagai Paku Buwono (PB) XIII, meskipun belakangan Hangabehi juga dinobatkan sebagai PB XIII. Keduanya juga yakin dualisme tersebut segera berakhir."Untuk menjadi raja kesehatan fisik dan mental menjadi syarat mutlak. Demikian pula dengan leadership dan wawasannya, karena sebagai pemangku adat, raja di era seperti sekarang ini tantangan semakin berat. Demi masa depan kraton maka kami mendukung KGPH Tedjowulan sebagai PB XIII," ujar KP Kusumo Hamidjojo kepada wartawan di Solo, Senin (13/9/2004)."Karena itu kami tidak mendukung orang selain beliau (Tedjowulan) yang mengaku sebagai PB XIII. Saya pribadi juga yakin ke depan dualisme atau keberadaan dua raja di satu kraton ini akan segera berakhir, seiring dengan semakin menguatnya dukungan bagi Sinuhun PB XIII Tedjowulan," lanjut salah seorang pengurus KADIN pusat tersebut.Hal serupa juga disampaikan oleh Poppy Dharsono. Poppy mengatakan penobatan Tedjowulan didukung oleh tiga pimpinan elemen inti di kraton sebagai bentuk aspirasi seluruh keluarga, kerabat, dan abdidalem di kraton serta memperhatikan aspirasi masyarakat luas yang masih memiliki kepedulian kepada kraton.Selain itu saat ini Tedjowulan selaku PB XIII telah diterima oleh sejumlah pejabat dan tokoh penting. "Sinuhun (Tedjowulan) telah bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah selaku PB XIII. Selain itu juga telah bertemu KSAD, Gus Dur, Pak Taufiq Kiemas dan lain-lainnya. Legitimasi dan dukungan bagi beliau semakin kuat. Saya yakin beliau yang akan bertahan," kata Poppy.Baik Poppy maupun Kusumo juga mempertanyakan sikap KGPH Haryo Mataram yang dianggap inkonsisten. Pangeran sepuh putra PB X tersebut dalam penobatan Hangabehi 10 September lalu bersedia hadir dan menyematkan lambang kebesaran raja di dada Hangabehi. Selain itu, pakar hukum humaniter itu juga mempertanyakan dasar dipakai Tedjowulan dinobatkan sebagai raja.Menurut Poppy dan Kusumo, pernyataan Haryo Mataram itu dinilai sangat berbeda dengan pernyataan sebelumnya yang mengatakan bahwa dari 35 putra-putri almarhum PB XII, hanya ada tiga orang yang layak menggantikan ayahnya sebagai raja. Ketiga orang yang disebut Haryo Mataram saat itu adalah KGPH Tedjowulan, KGPH Hadi Prabowo, dan GPH Dipokusumo."Tapi ketika Gusti Tedjo dinobatkan sebagai raja didukung oleh Gusti Hadi dan Gusti Dipo, mengapa beliau justru berbalik seperti sekarang. Sebagai orang yang kami tuakan di kraton, seharusnya bisa konsisten dalam sikap dan tindakannya," ujar Kusumo. (asy/)


Berita Terkait