Doddy Hidayat dari Tim Sympathy of Solidarity (SOS) Rohingya – ACT Foundation mengatakan, kondisi memprihatinkan yang mengancam pengungsi Rohingya kini diperparah dengan munculnya endemi malaria.
“Cuaca dan sanitasi yang buruk di pengungsian, menyuburkan hadirnya bermacam penyakit,” kata Doddy dalam rilis kepada detikcom, Minggu (21/10/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bersamaan persiapan tim Global Qurban ACT, pengiriman obat-obatan mendorong kepedulian lebih lanjut masyarakat Indonesia untuk Rohingya.
“Sebaiknya kita tidak berhenti merasa cukup membantu dengan mengirim qurban saja. ACT melihat banyak celah untuk dibantu, bahkan begitu banyak. Lahan amal amat luas di Rohingya, selain di wilayah lain di dunia maupun di Indonesia sendiri. Tapi dilihat penderitaannya, Rohingya masih nomor satu. Membantu mereka, semoga menghindarkan petaka dan musibah bagi Indonesia,” kata Syuhelmaidi Syukur, Vice President ACT dan Ketua Tim SOS-Rohingya-ACT berikutnya.
Tim SOS Rohingya–ACT berikutnya sudah siap berangkat. Informasi terkini menjadi dasar menyiapkan kiriman bantuan selanjutnya. ACT berkomitmen membantu tidak sebatas shelter dan qurban.
“Shelter apalagi qurban, juga bantuan medis nanti, masih di level emergency. Perlu bantuan tahap berikutnya, dan itu juga memerlukan dukungan luas, juga waktu yang pasti tidak bisa seketika. Kita semua berdoa dan berikhtiar, semoga krisis Rohingya segera berakhir dengan solusi terbaik,” ujar Syuhelmaidi Syukur,
(mad/jor)











































