Namun niatannya itu tidak sepenuhnya dipenuhi Presiden Michel Suleiman. Mikati diminta untuk tetap tinggal dalam beberapa kurun waktu.
"Dalam pertemuan dengan (presiden), saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak ingin untuk tetap pada jabatan Perdana Menteri dan bahwa kita perlu mempertimbangkan pembentukan pemerintah baru," kata Mikati seperti dilansir Reuters, Sabtu (20/10/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya menerima (permintaan presiden untuk tinggal) karena ada ketakutan bahwa Libanon akan jatuh ke dalam kekacauan," ujarnya.
Sebelumnya, pasca serangan bom mobil yang menewaskan 8 orang, termasuk pejabat tinggi intelijen, dan melukai 86 orang lainnya, Perdana Menteri Libanon Najib Mikati didesak untuk mundur dari jabatannya. Desakan ini dilontarkan oleh kelompok oposisi yang menilai PM Mikati bertanggung jawab atas insiden tersebut.
"Pemerintah harus mundur dan kami menyerukan agar Perdana Menteri Najib Mikati segera mengundurkan diri," tegas Sekretaris Jenderal Future Movement, Ahmad Hariri.
Future Movement merupakan kelompok oposisi di Libanon yang didominasi penganut Sunni. Diketahui bahwa Kepala Intelijen Tentara Keamanan Libanon, Jenderal Wissam al-Hassan yang tewas dalam serangan tersebut merupakan kerabat dekat putra Hariri, Saad. Saad sendiri dikenal sebagai pemimpin oposisi di Libanon dan sangat memusuhi rezim Presiden Bashar al-Assad di Suriah.
"Perdana Menteri Najib Mikati secara personal bertanggung jawab atas tertumpahnya darah Jenderal Wissam al-Hassan dan korban lainnya yang tidak berdosa," imbuh Hariri.
(ahy/ahy)











































