"Jangan sampai seperti pariwisata, tidak ada dampaknya," ungkap Hasyim Muzadi kepada wartawan di Kantor Daerah Kerja Mekkah, Kamis, (18/10/2012).
Menurut Hasyim setiap tahun ada sekitar 200 ribu orang Indonesia yang berhaji. Orang-orang tersebut diharapkan mampu menciptakan kondisi yang lebih baik.
Dia juga meminta agar jamaah tidak kehilangan substansi dan makna beribadah haji yang sesungguhnya. Jangan sampai hanya masalah tidak baiknya sarana dan prasarana kemudian berkurang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasyim berharap jamaah haji Indonesia yang pulang menjadi haji mabrur. Dampak dari haji mabrur akan luar biasa. Dia mencontohkan dari 200 ribu jamaah haji itu kemudian kembali ke keluarganya dan mengajak berbuat kebaikan akan besar sekali dampaknya.
"Mereka itu dikali 5 anggota keluarganya saja untuk menjadi lebih baik, maka akan ada sejuta orang Indonesia yang menjadi lebih baik setiap tahunnya. Haji menjadi saranan pembentukan hati dan pikiran yang baik," katanya.
Menurut dia, saat ini kecenderungannya setelah pulang haji, perilakunya tidak berubah menjadi baik, sama seperti ketika berangkat atau malah ada yang lebih buruk.
"Haji atau tidak haji tidak ada dampaknya. Ini berarti kurang efektif," katanya.
Mengenai banyak jamaah lansia atau yang menderita sakit. Dia menambahkan pihaknya tidak bisa melarang untuk melaksanakan ibadah haji hanya karena adanya halangan fisik dan kesehatan.
Menurutnya haji bukan hanya masalah normatif tapi juga motivatif sehingga tidak boleh ada larangan meski itu merepotkan penyelengara haji. Khusus pelaksanaan haji, memang tidak semuanya rasional. Meski ada jemaah yang tidak memenuhi istitoah atau kemampuan naik haji seperti sakit atau ada kendala fisik, tetapi mereka tidak bisa dilarang.
"Kalau ini dilakukan mereka protes. Mereka mengatakan yang sakit saya, yangmau mati saya, kenapa sampeyan yang repot. Haji memang bukan masalah normatif tapi motivatif ini sulitnya," pungkas Hasyim.
(bgk/ndr)











































