Familiarkah Anda dengan istilah bike sharing alias berbagi sepeda? Transportasi umum ramah lingkungan itu sudah lama diterapkan di kota-kota besar di Amerika dan Eropa. Di Asia, baru China, Korea, Jepang, Taiwan, India, Singapura dan Indonesia yang menerapkan ini! Mau tahu di mana saja?
Konsep berbagi sepeda ini pertama kali dicetuskan oleh politisi dan pengusaha Belanda di Amsterdam, Laurens Maria Hendrikus Schimmelpennink atau yang lebih dikenal dengan Luud Schimmelpennink, pada tahun 1965. Luud memikirkan cara membuat konsep transportasi yang ramah lingkungan, mengurangi jumlah kendaraan bermotor untuk alasan lingkungan dan kesehatan publik. Namun, transportasi itu juga harus bisa membuat warga kota leluasa berkeliling kota.
Tahun 1965, Luud pun membuat gerakan sosial bernama 'White Bicyle Plan'. Dia dan teman-temannya mengumpulkan ribuan sepeda, mengecat semuanya dengan warna putih dan meninggalkannya begitu saja di beberapa titik di Amsterdam untuk digunakan siapa saja dengan bebas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut data dari makalah peneliti transportasi dari University of California Berkeley, Susan Shaheen dan Stacey Guzman, pada Mei 2011 lalu, diperkirakan ada 136 program berbagi sepeda yang tersebar di 165 kota di dunia. Ada 237.000 sepeda berkeliaran untuk transportasi umum itu. Dan tren program ini semakin meningkat.
Yuk tengok kota-kota yang sukses dengan konsep bike sharing ini di berbagai benua, yang dikutip detikcom dari berbagai sumber:
1. Montreal, Kanada
|
digitaljournal.com
|
Mulai diadakan tahun 2009, kini Bixi memiliki lebih dari 5 ribu sepeda dan 400 stasiun penyewaan. Menurut data dari makalah peneliti transportasi dari University of California Berkeley, Susan Shaheen dan Stacey Guzman, hingga 2009, Bixi ini melayani jaringan sepanjang 35.075 km.
Bixi ini awalnya digagas Pemerintah Kota Montreal yang membentuk Badan Layanan Umum bernama Public Bike System Company (PBSC), yang bekerja sama dengan pengelola perparkiran swasta Stationnement de Montreal. Mereka bertanggung jawab mendesain sistem berbagi sepeda untuk mengurangi kendaraan bermotor.
Sistemnya memakai mesin otomatis di stasiun-stasiun penyewaan sepeda. Warga hanya perlu menggesekkan kartu kredit untuk membayar biaya keanggotaan baik 24 jam seharga US$ 5; 30 hari seharga US$ 30,25 dan 1 tahun seharga US$ 80,50.
Kemudian tarif pemakaian jam-jaman yang diatur progresif. Bixi menggratiskan 45 menit pertama, kemudian hingga 1 jam US$ 1,75, hingga 3 jam US$ 3,5 dan berikutnya tiap 30 menit US$ 7.
Sistemnya ini menjadi pelopor sistem berbagai sepeda di dunia. Bixi pula yang menggarap sistem berbagi sepeda di Washington DC, London, hingga Melbourne.
Situs: https://montreal.bixi.com/
2. Washington DC, AS
|
dok Wikipedia
|
Pada 2011, Montgomery County di Maryland setuju ikut bergabung dalam program ini. Sehingga dari yang awalnya memiliki 1.670 sepeda dengan 189 stasiun penyewaan menjadi bengkak dengan 2.800 sepeda di 288 stasiun pada tahun 2012.
Menurut data dari makalah peneliti transportasi dari University of California Berkeley, Susan Shaheen dan Stacey Guzman, pada Mei 2011 lalu, 'Capital Bikeshare' ini melayani jaringan sepanjang 8.369 km.
Warga yang ingin menggunakan sepeda ini harus mendaftar dulu sebagai anggota dengan berbagai pilihan 24 jam, 3 hari, 30 hari sampai tahunan. Biaya keanggotaan makin murah bila mengambil waktu semakin lama. Contohnya, keanggotaan 24 jam biayanya US$ 7, 3 hari US$ 15 hingga tahunan biayanya US$ 75.
Kemudian, ada biaya pemakaian yang dihitung progresif tiap 1 jam pertama, 3 jam pertama, makin lama semakin mahal biaya sewanya. Namun, 30 menit pertama digratiskan. Anggota dengan keanggotaan 24 jam dan 3 hari memiliki biaya pemakaian progresif yang lebih mahal dibanding dengan keanggotaan tahunan.
Oh ya, semua aktivitas baik pendaftaraan keanggotaan hingga penyewaan sepeda di masing-masing stasiun ini sudah otomatis. Tinggal gesek kartu kredit, dapatkan kode dan kunci sepeda dan kring-kring! Gowes semau Anda.
Situs: http://www.capitalbikeshare.com/
3. Paris, Prancis
|
dok inhabitat.com
|
Sebenarnya Paris bukan merupakan kota pertama di Prancis yang memiliki program berbagi sepeda. Ada Kota Lyon dengan program 'Velov' dan kota perintis berbagi sepeda La Rochelle yang memiliki program sejak tahun 1974.
Namun di Paris, pemerintah kotanya menggarap dengan serius sehingga kini memiliki 20 ribu sepeda dengan 1.800 stasiun sepeda tiap 300 meter yang beroperasi 24 jam. Jaringan yang dilayani, 903.404 km!
Dengan demikian ini merupakan program berbagi sepeda terbesar kedua di dunia setelah Hangzhou di China. Sejak Desember 2011, sistem Velib ini melengkapi sistem Autolib, sistem berbagi mobil dengan skema yang sama.
Pembiayaan Velib ini pemerintah bekerja sama dengan perusahaan periklanan JCDecaux. JCDecaux menginvestasikan modal US$ 140 juta atau Rp 1,3 miliar, menyiapkan SDM teknis untuk mengoperasikan sistem dan memperbaiki sepeda yang rusak.
Sebagai gantinya, JCDecaux memiliki hak kelola ekslusif untuk 1.628 billboard iklan, dan pemerintah kota bisa menggunakan setengahnya dengan gratis untuk iklan layanan masyarakat.
Warga yang akan menyewa bisa menggesekkan kartu kredit/debit di stasiun untuk mendaftar keanggotaan baik sehari 1,7 Euro (Rp 21.418), 8 Euro (Rp 100.790) per minggu, 29 Euro per tahun (Rp 365.365) dan 39 Euro (Rp 491.354) per tahun . Kemudian ada pula tarif pemakaian jam-jaman, dari 1 Euro per jam (Rp 12.598) hingga 151 Euro (Rp 1,9 juta) untuk 20 jam. Velib menggratiskan 30 menit pertama pemakaian sepeda ini.
Situs: http://en.velib.paris.fr/
4. London, Inggris
|
Boris Johnson dan Barclays Bicycle Hire (dok Guardian)
|
Sistem ini dimulai Pemkot London pada 2010, bekerja sama dengan sponsor Bank Barclays. Barclays yang menjadi sponsor utama membiayai program ini, sehingga program berbagi sepeda ini dinakan Barclays Cycle Hire. Logo dan tulisan Barclay dan warna biru muda menjadi satu-satunya yang mewarnai sepeda ini.
Cara mendaftar keanggotaan ini melalui internet atau telepon, membayar via kartu kredit/debet untuk keanggotaan 24 jam (1 Pounds = Rp 15.503), 7 hari (5 Pounds = Rp 77.517) atau 1 tahunan (45 Pounds = Rp 697.660). Plus deposit 3 Pounds (Rp 46.510) untuk kunci sepeda.
Kemudian ada biaya pemakaian, di mana semakin lama tentu semakin mahal. Dari gratis 30 menit pertama, kemudian 1 Pounds untuk 1 jam hingga 50 Pounds (Rp 775.178) untuk 24 jam.
Oh ya, Barclays Cycle Hire ini juga bekerja sama dengan vendor-vendor seperti salon, hotel dan spa. Bagi para anggota yang makin banyak penggunaan dan poinnnya, bisa dapat pelayanan gratis atau diskon di tempat-tempat itu. Asyik kan!
Situs: http://www.tfl.gov.uk/roadusers/cycling
5. Melbourne, Australia
|
|
Sistemnya sama dengan Bixi, membayar biaya keanggotaan harian (Aud$ 2,60 = Rp 25.948), mingguan (Aud$ 8 = Rp 79.842) dan tahunan (Aud$ 52 = Rp 518.975). Kemudian ada biaya pemakaian dari gratis pada 30 menit pertama, hingga progresif Aud$ 17 (Rp 169.665) hingga 2 jam. Selanjutnya dihitung Aud$ 10 (Rp 99.803) tiap 30 menit.
Tak seperti di kota lain, sistem berbagi sepeda di Australia mewajibkan pemakainya memakai helm. Nah, happy safety riding!
Situs: http://www.melbournebikeshare.com.au/
6. Hangzhou, China
|
dok Wikipedia
|
Program bernama Hangzhou Public Bicycle ini dimulai pada tahun 2008, yang dilaksanakan Dewan Transportasi Kota Hangzhou. Pemkot Hangzhou menginvestasikan 180 juta Yuan (Rp 276 miliar) untuk program ini dan pinjaman lunak 270 juta Yuan (Rp 414 miliar).
Sistem berbagi sepeda ini menggunakan kartu pintar. Warga yang menyewa harus mendepositkan uang 200 Yuan (Rp 307.072). Kemudian ada biaya pemakaian yang gratis pada 1 jam pertama, kemudian progresif 1 Yuan (Rp 1.535) pada 1 jam kedua, 2 Yuan (Rp 3.070) pada 1 jam ketiga, hingga tiap jam berikutnya dikenai 3 Yuan (Rp 4.606).
Nah, cukup murah bukan?
Situs: http://www.hzzxc.com.cn/
7. Bandung, Indonesia
|
detikbandung.com
|
Wali Kota Bandung Dada Rosada meresmikan Bike Sharing di Jalan Buah Batu Bandung, Minggu (10/6/2012). Program tersebut diluncurkan Komunitas bike.bdg yang didukung oleh Bandung Creative City Forum (BCCF). Bike sharing alias sewa sepeda sebagai solusi alternatif untuk penyediaan transportasi sehat dan ramah lingkungan.
Untuk program bike sharing ini akan ada 12 shelter, 20 petugas pencatat dan 150 sepeda yang siap disewakan. Shelter tersebut di antaranya ada di daerah Buah Batu, Babakan Siliwangi, Dipatiukur, Cikapayang, Dago, dan lainnya.
Bagaimana cara menyewanya? Anda cukup menyewa sepeda untuk sampai ke tempat tujuan. Misal, jika Anda dari shelter Dago menuju Jalan Pelajar Pejuang 45, bisa mengembalikan sepeda ke shelter yang ada di Buahbatu.
Saat ini, ada 170 sepeda berbagai jenis mulai sepeda lipat, city bike, mountain bike, hingga sepeda lipat. Biaya sewa sepeda tersebut cukup murah, Rp 3 ribu per jam dan khusus sepeda listrik Rp 5 ribu per jam. Mulai beroperasi dari pukul 06.00 WIB hingga 18.00 WIB.
Bagi Anda yang tertarik menjadi member, cukup membayar Rp 75 ribu untuk enam bulan. "Saat ini sih jumlah membernya baru 44 orang, tapi setiap hari peminjaman sekitar 25 orang untuk yang di Jalan Banteng. Kalau di Cikapayang sekitar 15 orang," tutur Public Relations Bike Sharing Shitta Natashia Mahachakri dihubungi detikbandung melalui telepon, Sabtu (16/6/2012).
Namun sayang, tangan-tangan jahil mengutili bagian sepeda ini, saat sepekan program ini diluncurkan.
"Awalnya sepeda-sepeda yang ada di shelter kita mau simpan di gudang. Tapi akhirnya kita simpan di shelter. Ya, positive thingking sepeda akan aman, tidak akan ada yang ambil," ujar Shitta.
Untuk pengamanan, sepeda yang ada di dua shelter yaitu di Taman Cikapayang Dago dan Jalan Banteng Buahbatu dirantai dan setiap sepedanya digembok.
"Hehe tapi ternyata bel sepeda yang ada di Taman Cikapayang hilang. Kita duga sih diambil pemulung. Itu kan terbuat dari alumunium, jadi lumayan kalau ditimbang," ujar Shitta.
Situs: http://www.bccf-bdg.com/ atau www.bandung.go.id










































