Butuh 6 Bulan untuk Pulihkan Pariwisata Pasca Bom

Butuh 6 Bulan untuk Pulihkan Pariwisata Pasca Bom

- detikNews
Sabtu, 11 Sep 2004 01:15 WIB
Medan - Ledakan bom di depan Kedubes Australia, Jakarta, sudah pasti mengganggu denyut nadi pariwisata di Indonesia. Menurut Asita, setidaknya butuh waktu enam bulan untuk memulihkan kondisi tersebut.Ketua DPP Association of the Indonesia Tour and Travel Agencies (Asita) Ben Sukma menyatakan, waktu enam bulan itu merupakan waktu minimal yang dibutuhkan untuk memberikan citra positif pariwisata nasional, termasuk di antaranya melalui kampanye yang intensif."Bom ini akan berpengaruh kuat terhadap kunjungan pariwisata ke Tanah Air dan sepertinya mustahil untuk memenuhi target kunjungan wisatawan mancanegara tahun ini yang mencapai 5,1 juta orang," tukas Ben Sukma kepada wartawan di kantornya, Jl. Sisingamangaraja, Medan, Jumat (10/9/2004).Ledakan bom terakhir itu tentu saja sangat disesalkan kalangan usaha perjalanan wisata, karena pasca bom Bali, kondisi pariwisata sebenarnya belum pulih benar. Menurutnya, pariwisata Bali terselamatkan dengan kehadiran wisatawan lokal. Ditambahkan, saat ini terjadi perubahan wisatawan asing di Bali yang kini didominasi warga Australia, Taiwan, Cina, Jepang dan Malaysia. Sedangkan wisatawan dari Eropa menurutnya masih enggan berkunjung karena tragedi Bali.Namun kondisi yang mulai membaik tersebut, dirusak oleh bencana bom di depan Kedubes Australia, lokasi yang selama ini sebenarnya dijaga ketat. Menurutnya, hal itu justru memberi stigma buruk dan dunia luar beranggapan kondisi keamanandi Indonesia tidak kondusif.Untuk mensiasati kondisi ini, sambung Ben, pengusaha dapat mengalihkan rute-rute perjalanan ke kawasan yang terbukti aman. Para pelaku wisata akan mencoba menghindari dulu kawasan Jakarta, terutama hotel-hotel yang dimiliki atau banyak dikunjungi warga asing.Disebutkan Ben, jika hingga akhir tahun ini saja pencapaian target wisatawan bisa mencapai angka 80 persen, hal itu sudah sangat luar biasa. Pasalnya, teror bom yang sudah kesekian kalinya ini membuat pelaku wisata sulit menjual objek wisata Indonesia ke negara lain. (ani/)


Berita Terkait