Dukung SBY, Muladi Yakin Bisa Pengaruhi Pilihan Massa
Sabtu, 11 Sep 2004 00:44 WIB
Semarang - Melalui ketenarannya, seseorang bisa mempengaruhi pilihan sikap dan tindakan orang lain. Itulah yang diyakini Muladi ketika mendukung capres Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Sebagai mantan Menteri Kehakiman, mantan Penasihat DPP Partai Golkar dan seabrek jabatan lainnnya, ia berharap orang lain juga mendukung SBY."Saya sudah sejak dulu mendukung SBY. Dukungan itu saya sebarkan ke berbagai lembaga yang saya ikuti. Karena jangan salah, kalau orang-orang Habibie Center, FKPPI, Forkaphi, dan akademisi banyak yang berpihak SBY," kata Muladi ketika ditemui di Hotel Graha Santika, Jl. Pandanaran, Semarang, Jumat (10/9/2004).Dikatakan Muladi, dirinya optimis pilihan politiknya akan diikuti banyak orang. Pasalnya, ada alasan rasional atas dukungan itu. Menurutnya, SBY bisa membangun bangsa dari keterpurukan. Itu bisa dilihat dari track record-nya yang bersih dan visioner."Secara pribadi saya dekat dengannya (SBY). Saya pernah diminta menjadi Ketua Umum Partai Demokrat, tapi karena PNS maka secara otomatis saya menolak tawaran itu. Ada batas yang tidak memungkinkannya masuk partai lagi setelah lepas dari Partai Golkar setahun silam," paparnya.Lebih lanjut, Muladi menyatakan, dirinya juga sudah bicara banyak dengan orang-orang SBY. Demikian pula dengan SBY sendiri. Sebagai orang non-partisan, ia berharap SBY mampu melakukan misi pemberantasan korupsi dan perlindungan HAM. Di era Megawati, kedua agenda itu menurutnya agak terabaikan.Muladi yang saat ini aktif mengajar di program pasca sarjana Universitas Diponegoro ini mengatakan, dirinya sudah sering diundang para pendukung SBY di berbagai daerah. Dalam acara itu, ia sering diminta memaparkan gambaran politik jika SBY terpilih. "Siang tadi, saya datang di acara Relawan SBY," ungkapnya.Ketika ditanya soal keadaan Partai Golkar yang kian kacau dengan adanya faksi Fahmi Idris cs, Muladi mengatakan, partai harus bersikap bijaksana. Segala dinamika, baik dengan secara tertutup maupun terbuka, sebenarnya bagus buat partai."Kalau sampai Fahmi dan Marzuki (Darusman) dipecat, kemungkinan besar Golkar bisa pecah. Soalnya, setiap elit Golkar itu kan punya massa pendukung. Dibiarkan saja, malah tambah bagus," paparnya.Muladi menilai, saat ini Partai Golkar juga dalam posisi kritis. "Dukungannya ke Megawati sangat membahayakan keberadaan partai yang baru beberapa tahun bangkit ini. Jika Mega kalah ia bakal terancam," demikian Muladi.
(ani/)











































