Minggu, Mega Bertemu Kiai dan Resmikan Ponpes di Salatiga

Minggu, Mega Bertemu Kiai dan Resmikan Ponpes di Salatiga

- detikNews
Jumat, 10 Sep 2004 23:15 WIB
Semarang - Karena tergolong unik, Presiden RI yang juga capres dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri dipastikan akan hadir di Pondok Pesantren Agro Falaq, Pulutan, Salatiga, Minggu (12/9/2004). Rencananya, Mega akan meresmikan ponpes yang memiliki materi kajian perkebunan itu sekaligus bertemu dengan kiai se-Jateng."Kalau selama ini ponpes hanya dimiliki kiai, tidak demikian dengan Ponpes Agro Falaq. Di ponpes itu hanya ada pengajar, khususnya materi perkebunan. Seluruh santri adalah yatim piatu dan korban konflik Poso dan Ambon," kata Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng, Muhammad Adnan, kepada wartawan dalam jumpa persnya di kantor PWNU, Jl. Dr. Cipto, Semarang, Jumat (10/9/2004).Adnan yang juga menjadi salah panitia peresmian ponpes itu mengatakan, meski ada berbagai materi perkebunan, ponpes itu tetap memberikan materi keagamaan sebagaimana ponpes lainnya. Porsi kedua materi itu dibuat seproporsional mungkin.Dalam peresmian ponpes itu, kata dia, panitia telah mengundang seluruh kiai dari Cilacap sampai Lasem, Rembang. Jumlahnya sekitar 500-an orang. Pihak panitia juga telah mengudang seluruh pengurus NU di 35 daerah di Jateng. Dengan demikian, total peserta diperkirakan mencapai 1000-an orang.Usai peresmian, lanjut Adnan, seluruh kiai akan dikumpulkan untuk berdialog dengan Megawati. "Tidak ada acara dukung-mendukung. Kehadiran kiai dan Mega kan berada pada porsinya masing-masing. Kiai datang karena ada peresmian pondok, sedangkan Mega sebagai presiden RI," tukasnya.Lebih lanjut, Adnan menjelaskan, masalah dukung mendukung itu soal pribadi, tidak bisa disatukan hanya dengan suatu dialog atau pertemuan. Kalau pun ada kiai yang mendukung pasangan Mega-Hasyim Muzadi, hal itu harus dilihat sebagai kewajaran dan tidak pernah direkayasa sebelumnya.Ketika ditanya soal perkiraan suara NU yang masuk ke pasangan Mega-Hasyim, dosen FISIP Undip ini mengaku tidak bisa menghitungnya secara kuantitatif, mengingat total warga NU di Jateng tidak pernah terukur. "Kalau dilihat dari KTA, ya hanya 1.381.000. Tapi kalau dihitung secara umum, ya ada 6 jutaan," katanya.Apalagi, tambah Adnan, jika suara itu ditambah dengan konstituen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Netralitas PKB agak menguntungkan posisi Hasyim, terutama ketika dihadapkan dengan persoalan warga NU. Menurutnya, meski hanya secara pribadi beberapa pengurus teras PKB Jateng sudah menyatakan dukungannya kepada Hasyim. (ani/)


Berita Terkait