Protes Aksi Letkol Robert Simanjuntak, Jurnalis Bantul Gelar Pentas Wayang

Protes Aksi Letkol Robert Simanjuntak, Jurnalis Bantul Gelar Pentas Wayang

Muhammad Afifi - detikNews
Rabu, 17 Okt 2012 21:33 WIB
Protes Aksi Letkol Robert Simanjuntak, Jurnalis Bantul Gelar Pentas Wayang
Unjuk rasa jurnalis Bantul (Foto: Muhammad Afifi/detikcom)
Bantul - Disaat jurnalis beberapa daerah menggelar demontrasi atau konvoi, puluhan pekerja media di Bantul justru menggelar pentas wayang. Namun tujuan pentas yang dilakukan Aliansi Jurnalis Bantul (AJB) tetap sama, yakni mengecam tindak kekerasan oknum TNI AU dalam peristiwa jatuhnya pesawat Hawk 200 di Riau.

Tiga tokoh wayang terbuat dari kertas karton menjadi properti dalam "pentas" yang dilakukan jurnalis Bantul di Monumen Perjuangan TNI AU atau biasa disebut Monumen Ngoto, Desa Tamanan, Kecamatan Banguntapan, Bantul DIY, Rabu (17/10/2012).

Sebuah wayang berupa Gunungan atau kayon, satu wayang bergambar seorang lelaki bercelana pendek menenteng kamera foto. Sementara satu wayang berbaju biru khas TNI AU dengan wajah mirip tokoh cakil, bertaring dan mengenakan sarung tinju warna merah dikedua tangannya.

"Dalam pentas wayang, Gunungan selalu menandai awal cerita Goro-goro. Dan dua wayang ini adalah bagian dari tokoh yang terlibat dalam cerita goro-goro peristiwa di Riau kemarin", kata Yudha Kristiawan jurnalis Bantul yang bertindak sebagai salah satu dalang.

Dalam pentas yang digelar di hadapan replika bangkai Dakota VT-CLA, pesawat yang ditembak tentara Belanda saat Agresi Militer, masing-masing wayang dimainkan seorang "dalang".

Seperti ingin menggambarkan kejadian sebenarnya, sang dalang memainkan wayang bergambar orang berseragam TNI AU dengan gerakan menendang, memukul dan mencekik wayang bergambar orang berkamera. Tapi jika kejadian sebenarnya kamera berhasil dirampas oknum TNI AU, kamera milik wayang ini tetap utuh karena menjadi satu bagian dengan lengan wayang.

"Kenapa kita melakukan di monumen ini karena kita ingin mengingatkan kembali bahwa dalam sejarahnya, wartawan dan TNI bisa bekerjasama. Itu terjadi sejak sebelum kemerdekaan, saat Indonesia masih dalam penjajahan", Ujar Irfan jurnalis Radio Persatuan Bantul.

Dalam pernyataan sikapnya AJB mendesak institusi TNI AU menindak tegas oknum perwira yang melakukan penganiayaan terhadap wartawan dalam peristiwa jatuhnya pesawat Hawk 200. AJB juga mengingatkan agar TNI lebih cermat dalam merawat alutsista agar tidak terjadi musibah dikemudian hari.

Pentas wayang ala AJB ini berlangsung sekitar 30 menit. Tidak seperti lazimnya dalang wayang kulit yang pandai mengantarkan cerita, dalang dadakan ini lebih banyak mengucapkan kata "aaaghhh....tak rampas kameramu..." Sementara dalang lawan berulangkali mengatakan kata "jangan...jangan..."

Aksi dua dalang inipun kerap mengundang gelak tawa jurnalis lain maupun warga yang menonton dari jarak dekat.

(tor/tor)


Berita Terkait