Heboh Mega Kuis Rp 14 M (3)
Pundi-Pundi di Kantong YIMM
Jumat, 10 Sep 2004 16:53 WIB
Jakarta - Ignatius Iryanto, Direktur Yayasan Investigasi, Mediasi dan Monitoring (YIMM), mengaku tak mengira jika sayembara tabungan pendidikan yang ia adakan, menuai kecaman dan tuduhan telah melakukan kampanye terselubung. Ignas menilai apa yang dilakukannya sesuatu yang wajar, dan jauh dari kampanye. "Apa yang kami lakukan tak bertentangan dengan SK KPU (Surat keputusan Komisi Pemilihan Umum) maupun UU (Undang-undang) pemilu. Kita tak terbukti memenuhi lima unsur kategori kampanye. Kami juga bukan bagian dari kampanye capres Megawati," kata Ignas kesal.Sejak diumumkan Senin (6/9) lalu, kegiatan sayembara ini menuai kontroversi. Kecaman dan tuduhan sebagai bentuk kampanye terselubung bermunculan. Sampai Ignas Iryanto dipanggil ke Panwaslu untuk menjelaskan. Media massa juga mengorek keterlibatan berbagai BUMN penyumbang dana. Meski mendapat berbagai sorotan, tak membuat Ignas keder. Ia akan terus melangsungkan sayembara tabungan pendidikan. "Kami akan tetap teruskan sayembara ini meski banyak hambatan. Tetap sesuai rencana kami sebelumnya," tegas Ignatius Iryanto kepada detikcom Kamis (9/9/2004). Bagaimana YIMM mengumpulkan dana dan berapa jumlah dana keseluruhan? Ignatius menolak untuk merinci lebih lanjut. Namun jika dilihat dari hadiahnya saja nilainya cukup besar, yakni Rp 14 miliar. Selain itu, dana yang tak kalah besar diperlukan untuk mencetak tabloid Indonesia Sukses, distribusi dan iklan besar-besaran di media massa secara nasional. Menurut Ignatius, untuk promosi sayembara tabungan pendidikan, pihaknya telah mencetak ribuan tabloid dan memasang iklan di 31 media cetak se-Indonesia. Bisa dibayangkan berapa uang yang dikeluarkan dengan memasang iklan full colour satu halaman penuh. Pemasangan dilakukan serempak pada hari Senin (6/9/2004).Di Jakarta, pengumuman Sayembara dipasang di harian Kompas, Indopos, Merdeka dan Media Indonesia. Untuk wilayah Jawa Barat di harian Pikiran Rakyat, Jawa Tengah di Suara Merdeka dan Solo Pos, Jawa Timur di Jawa Pos dan lain-lain. Jika pemasangan iklan satu halaman penuh rata-rata Rp 60-an juta, maka dikalikan dengan 31 koran menjadi Rp 1,8 miliar.Selain biaya iklan dan tabungan pendidikan, masih ada biaya lainnya seperti pencetakan tabloid Indonesia, distribusi seluruh tabloid, operasional karyawan, biaya kantor dan sebagainya. Diperkirakan dana yang keluar jika semuanya berjalan mencapai Rp 16-19 miliar. Tentu jumlah tersebut merupakan biaya yang tidak sedikit bagi sebuah yayasan tak terkenal semacam YIMM. Lalu bagaimana cara mengatasinya? Ignatius lagi-lagi membantah jika ada instruksi dari Meneg BUMN Laksamana Sukardi agar mendukung kegiatan 'Mega Fakta' ini. "Kami mengelola secara profesional. Kami mengajukan sponsorship. Dari 40 BUMN yang kami kirim proposal, hanya beberapa perusahaan yang mengembalikannya, yakni 16 perusahaan," kata Ignas Iryanto.Toh meski Iryanto menyatakan 16 BUMN menjadi sponsor sayembara tabungan pendidikan, tak semua BUMN mengakuinya. Dari 16 BUMN yang ditelusuri, beberapa memang mengaku ikut membiayai. Di antara BUMN yang mengaku terang-terangan ikut mendanai program YIMM adalah Pertamina dan Indosat masing-masing memberikan Rp 1 miliar. Perusahaan lainnya yang mengaku menyumbangkan dana adalah BNI, PT Gas Negara, Bank Mandiri, PT Semen Padang, PT Semen Tonasa, PT Petrokimia Gresik.Dirut Pertamina, Widya Purnama, mengungkapkan pihaknya diminta untuk berpartisipasi dalam kuis tabungan pendidikan. "Proposal sampai ke saya dalam bentuk sponsorship. Pertamina sebagai BUMN menjadi sponsor dengan menyumbang Rp 1 miliar," kata Widya Purnama.Menurut Widya, permintaan sumbangan dana dari YIMM itu, hal biasa. Dan lagi, Pertamina juga mempunyai pos anggaran untuk pemajuan pendidikan. Pertamina sering mensponsori berbagai kegiatan seperti seminar, olahraga, maupun pertunjukan. Sebagai contoh untuk seminar di Bali, kata Widya, miliaran rupiah dikeluarkan Pertamina. Selaku pejabat Dirut Indosat (demisioner), Widya juga mengungkapkan bahwa perusahaan telekomunikasi itu ikut menyumbang Rp 1 miliar. Dia beralasan sewajarnya Pertamina dan Indosat mendukung program pemerintah karena merupakan bagian program itu. Sementara manajemen BNI juga mengakui keikutsertaannya sebagai sebagai salah satu donatur Mega Kuis yang diselenggarakan YIMM. Direktur Utama BNI, Sigit Pramono, mengatakan bantuan ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menyukseskan program pemerintah. "Ini biasa, apalagi untuk menyukseskan program pemerintah. Ini kan bentuk sponsor sebagaimana kami memberikan bantuan ke acara seminar," kata Sigit.Keikutsertaan ini, kata Sigit, tanpa ada paksaan dari Kantor Kementerian BUMN. Ia menegaskan bantuan tersebut selaras dengan program perusahaan yang fokus pada kegiatan pendidikan di dalam negeri. Hadiah yang diberikan BNI pun bukan berbentuk uang tunai. Ia menyebutkan bantuan BNI berupa tabungan pendidikan yang diberikan langsung kepada pemenangnya.Beberapa BUMN yang tercantum dalam lembaran tabloid Indonesia Sukses juga mengakui ikut menyumbang. Seperti halnya, PT Gas Negara (PGN) mengakui menyumbang Rp 200 juta. "Kami memberikan bantuan dalam bentuk sponsorship. Jumlahnya tak banyak Rp 200 juta. Bantuan itu diambil dari dana community development," kata Direktur Utama PGN, Simandjuntak.Direktur Bank Mandiri, Nomrad Sitorus mengakui perusahaannya ikut menyumbang kegiatan sayembara tabungan pendidikan dengan cara lansgung diberikan kepada pemenang sayembara pendidikan. Besarnya alokasi dana sumbangan pendidikan ini, satu persen keuntungan dari dana peduli lingkungan.Sementara dari PT Semen Gresik yang merupakan perusahaan holding semen nasional, terdapat dua perusahaan yang memberikan sumbangan. Yakni PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa. Hanya besarnya tak diketahui secara pasti. " Tapi kalau Smen Gresik malah tidak ikut," kata pejabat PT Semen Gresik.Ada yang oke dengan program YIMM, ada yang tidak. Beberapa BUMN yang diklaim peserta program Indonesia Sukses, mengaku tak ikut urun dana membiayai program berhadiah Rp 14,1 miliar tersebut. Bantahan antara lain disampaikan Dirut PLN, Eddie Widiono. "Kami tak menyumbang, saya sudah cek ke semua bagian jajaran PLN dari pusat sampai cabang. Tidak ada aliran dana ke Yayasan IMM," katanya. Soal logo yang terpasang? Saya juga gak tahu kenapa logo PLN terpampang disana. Yang pasti kami tak menyumbang sepeser pun untuk kegiatan itu," kata Eddie.PT Pos juga menyatakan tidak ikut memberikan sumbangan untuk kegiatan bertajuk Indonesia Sukses. PT Pos mengakui pernah diajak kerjasama untuk pengiriman tabloid terbitan YIMM ini, namun karena tidak ada kecocokan harga, kerjasama pun batal terselenggara.
(gtp/)











































