"PAN sebetulnya kan partai nasionalis terbuka, bukan partai islam, namun memang memiliki ikatan historis dan kultural dengan muhammadiyah," kata Ketua DPP PAN, Bima Arya dalam pesan singkat kepada detikcom, Senin (15/10/12).
Mengenai hasil surveinya sendiri, Bima berpendapat penurunan elektabilitas memang dialami oleh semua partai peserta pemilu 2009. Partai islam mengalami penurunan drastis karena memang tren 3 pemilu terakhir lebih rendah elektabilitasnya dari partai nasionalis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bima menambahkan, saat ini persaingan ketat bukan terjadi di partai papan atas seperti Golkar, PDIP dan Demokrat. Justru ada di papan tengah.
"Pemilu masih dua tahun, pertarungan ketat sedang terjadi di papan tengah dan kekuatan relatif sama. Ada pertarungan strategi, opini dan mobilisasi," imbuhnya.
Sebelumnya, LSI merilis survei mengenai kondisi terkini serta prediksi masa depan partai dan tokoh Islam di Indonesia. Hasilnya, popularitas partai dan tokoh Islam di kancah perpolitikan nasional kian suram.
"Partai Islam hanya akan jadi komplementer di 2014, jadi pelengkap saja," kata Peneliti LSI, Adjie Alfaraby.
Adjie mengatakan popularitas semua partai Islam seperti PKS, PPP, PAN dan PKB ada di bawah angka 5 persen. Namun dia menolak memberikan rincian hasil survei yang dilakukan LSI. "Data itu sensitif," ujarnya.
(mok/mok)











































