"Jumlah potensi swing voter itu sangat besar, bisa membuat partai yang tidak ada pada pemilu 2009 menjadi suara signifikan. Seperti yang dialami Demokrat dan PKS tahun 2004, atau Gerindra dan Hanura pada pemilu 2009," kata CEO SMRC, Grace Natalie, dalam diskusi yang bertajuk 'Kecenderungan swing voter pemilih partai menjelang pemilu 2014' di Hotel Grand Hyatt, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (14/10/2012).
Menurut Grace, partai papan tengah berpotensi menjadi partai papan atas dengan banyaknya swing voter ini, seperti kasus Demokrat. Akan tetapi swing voter juga bisa membuat partai papan atas turun tajam, contoh kasusnya pada PDIP pada pemilu 1999-2004 dan Golkar 2004-2009.
Berdasarkan survei SMRC, jika pemilu legislatif digelar hari ini, Golkar mendapat suara paling banyak, sebesar 14 persen. Disusul PDIP sebesar 9 persen, Demokrat 8 persen, NasDem 4 persen, Gerindra 3 persen. Sebesar 50 persen pemilih masih belum menentukan pilihannya.
"Yang mengambang ini kemungkinan swing voter atau pemilih pemula," lanjut Grace.
(/)











































