Jokowi Diharap Bantu Pulangkan Wartawan Australia yang Tewas di Balibo 1975

- detikNews
Minggu, 14 Okt 2012 16:59 WIB
Jakarta - Harapan besar digantung Shirley Shackleton, warga Australia, kepada Gubernur DKI Jakarta terpilih, Jokowi. Shirley berharap Jokowi bisa membantu memulangkan tulang belulang suaminya yang dikubur di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Suami Shirley, Greg Shackleton, adalah satu dari 5 wartawan yang tewas dalam peristiwa Balibo pada 1975. Shirley pertama kali mengunjungi makam suaminya pada Juli 2010 lalu. Kunjungannya hari ini adalah kali keduanya.

"Kami tahu Jakarta besok akan mendapatkan gubernur yang baru disumpah jabatan besok. Kami berharap gubernur yang baru di bawah yuridiksinya atas pemakaman ini ikut membantu penyelesaian kelima jenazah ini di Jakarta. Kami sangat berharap," kata Senator Australia Selatan, Nick Xenophon.

Hal itu disampaikan dia saat mendampingi Shirley mengunjungi makam Greg di Blok AA1 Blad 69, TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Minggu (14/10/2012).

Dia menuturkan pertemuannya dengan Shirley terjadi pada dua tahun lalu dalam peluncuran buku Circle of Silence di Adelide. Begitu mendengar kisah Shirley, Xenophon lantas berpikir bahwa perempuan 80 tahun itu perlu dibantu mendapat keadilan. Sebab sudah puluhan tahun Shirley berjuang mencari jenazah suami tercintanya.

"Dua tahun lalu Menlu Indonesia berjanji akan upayakan jenazah bisa kembali ke Australia. Namun minggu ini kami nggak bisa bertemu dengan Menlu, sayang sekali. Namun kami sudah bertemu juga dengan Menlu Australia Bob Car di Australia. Dia janji akan bantu bawa jenazah kembali," sambung Xenophon.

Selama di Indonesia, pihaknya akan menghubungi tim lawyer di Jakarta, salah satunya adalah aktivis KontraS, Haris Azhar. Tim pengacara itu akan memberi bantuan hukum terkait kepentingan mereka di Jakarta.

"Memang agak rumit karena jenazah bercampur jadi satu, tapi tes DNA lebih canggih hari ini," sambung Xenophon.

Bagaimana dengan investigasi Australia? "Belum tahu perkembangan investigasi, namun minggu ini akan ada hearing pertemuan Senat Australia dengan Polisi Federal Australia, baru kami akan tahu progresnya. Kami sudah habiskan uang Rp 5 miliar rupiah untuk menyelidiki kasus ini," papar Xenophon.

Menurut dia jika ada kemauan dan itikad politik yang baik, pasti akan ada hasil baik yang diharapkan bersama. Apalagi di mata dia, Indonesia dan Australia punya hubungan yang sangat baik, di level pemerintah maupun masyarakatnya. Sehingga penyelesaian kasus itu seharusnya tidak ada hambatan.

"Dia (Sherly) pasti tidak mau suaminya wafat, tapi masih penasaran apakah sudah berbuat cukup untuk suaminya," lanjut Xenophon.

Dia mengakui persoalan ini sangatlah sensitif. Maka itu, pihaknya ingin menyelesaikan masalah tersebut dengan cara konsensus. Xenophon mengingatkan pada 16 Oktober mendatang adalah peringatan kematian 5 wartawan yang tewas dalam peristiwa Balibo 1975.

"Keempat keluarga yang lain pasti ingin tahu posisi hukum bagaimana untuk memulangkan keluarga mereka. Kalau Sherly berhasil pasti mereka juga mau, ini juga tergantung kerja sama pemerintah Indonesia dan Australia," tambahnya.

Xenophon berencana pulang ke Australia pada malam ini karena Senin besok sudah harus bekerja kembali. Meski demikian dia akan terus memantau kasus ini dari Senat Australia.

"Saya akan menyurati Menlu terus untuk tahu perkembangan. Kami juga akan terus dapat nasihat dan bantuan hukum dari lawyer Indonesia. Kami akan balik lagi nanti, jika ada kemajuan, namun kita nggak tahu umur Sherly sampai kapan. Sampai kapan dia punya waktu?" tutur Xenophon.

Peristiwa Balibo adalah tragedi yang terjadi pada 16 Oktober 1975 di Kecamatan Balibo, Kabupaten Bobonaro, Timor Portugal (nama saat itu). Kala itu tengah berkecamuk perang saudara.

Lima wartawan asing yang meliput kejadian di Balibo itu tewas. Mereka adalah Brian Peters dan Briton Malcolm Rennie yang bekerja untuk Channel Nine Australia, Greg Shackleton, Tony Stewart (Inggris), dan Gary Cunningham, kamerawan Channel Seven. Mereka tewas dalam kondisi mengenaskan. Tubuhnya ditemukan hangus terbakar di toko kelontong.

(vit/trq)