"Mungkin kalau di atas 100 ribu orang kita akan bawa ke Presiden," kata peneliti Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Pramudya Hazrani, saat dihubungi detikcom, Minggu (14/10/2012).
Dia menjelaskan sebelumnya sudah ada MoU antara pemerintah dan JAAN mengenai tempat rehabilitasi lumba-lumba yang rencananya akan dibangun di kawasan Karimun Jawa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai belum tanggap terkait hal itu. Padahal pihaknya sudah memberikan masukan dan melayangkan beberapa laporan pelanggaran terkait penyalahgunaan lumba-lumba, salah satunya sirkus keliling.
"Secara langsung sudah menyampaikan keberatan kita terhadap sirkus keliling, jadi yang kita harapkan sangat simpel, sayangnya tidak pernah dijalani," papar dia.
Sebelumnya, berdasarkan penelusuran JAAN, ditemukan ada sejumlah praktik jahat yang dilakukan pengelola sirkus keliling. Pertama, air yang digunakan untuk show lumba-lumba bukan murni air laut, tapi air tawar yang diberi garam dan cairan kimia. Cairan ini cenderung membutakan.
Selain itu, lumba-lumba juga bisa stres karena terus berpindah. Apalagi perawatan kesehatan lumba-lumba itu pun seadanya.
(ndu/vit)










































