Di Pinggir Sungai Cipinang Itu Bocah-bocah Asyik Mendengar Dongeng

Di Pinggir Sungai Cipinang Itu Bocah-bocah Asyik Mendengar Dongeng

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Jumat, 12 Okt 2012 18:02 WIB
Di Pinggir Sungai Cipinang Itu Bocah-bocah Asyik Mendengar Dongeng
Jakarta - Meski matahari bersinar terik, namun bantaran Sungai Cipinang, Jakarta Timur, terasa sejuk oleh pepohonan. Di sanalah puluhan bocah asyik mendengar dongeng tentang kancil mencuri timun. Sayang, bau tidak sedap dari air sungai yang hitam kerap tercium.

Bocah-bocah usia 5 hingga 12 tahun itu duduk beralas tikar dan beratap terpal. Mereka tinggal di sekitar Kampung Penas, Jl DI Panjaitan, Cipinang Besar Selatan, Jatinegara Jakarta Timur.

"Adik-adik mau mendengarkan dongeng tidak?" tanya Sekretaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Muhammad Ihsan, kepada anak-anak dalam kegiatan tersebut, Jumat (12/10/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mau, mau, mau," jawab bocah-bocah itu riuh.

Ihsan lalu meminta anak-anak duduk dengan manis sebelum dia mendongeng. Dongeng pada Jumat siang ini adalah tentang si kancil yang mencuri timun.

"Zaman dahulu ada seekor kancil yang kelaparan di daerah pertanian. Si kancil mencoba mencuri ketimun, namun ketika mencuri ketimuan, dia tertangkap petani. Kancil pun mencoba kabur," tutur Ihsan memulai dongengnya di atas panggung kecil.

Anak-anak memperhatikan Ihsan dengan seksama. Terkadang suara Ihsan terdengar tinggi, terkadang rendah dan besar. Mimik wajahnya pun membuat anak-anak merasa tertarik untuk terus mengikuti.

Setelah selesai mendengarkan dongeng. Anak-anak diajak belajar tepuk oleh oleh Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta), Azas Tigor Nainggolan. Tepuk Pramuka hingga tepuk angka dilakukan anak-anak dengan suka ria. Tawa ceria mereka pun terdengar semarak di sepanjang pinggir kali.

Lalu, tibalah sesi tanya jawab. Anak-anak diminta bertanya kepada para narasumber yang ada. Erik, seorang anak berusia 12 tahun seketika mengacungkan jarinya. Setelah dipersilakan bertanya, Erik buka suara. "Kenapa ada RT 00?" tanya dia.

Ihsan pun menjelaskan RT 00 ditinggali oleh sejumlah warga selama bertahun-tahun tetapi tidak diakui sebagai warga Jakarta. Akibatnya terjadilah konflik lahan atau konflik kependudukan.

"Kemarin kan Jokowi akan menertibkan RT 00. Jadi mereka nantinya diberi KTP dan KK sehingga mereka terakui sebagai warga Jakarta," terang Ihsan.

Pertanyaan lain dilontarkan oleh Raka yang baru berusia 6 tahun. "Kok di Jakarta ada lampu merah?" tanya Raka polos yang disambut tawa orang tua yang ikut hadir dalam acara tersebut.

"Ada lampu merah karena biar nggak macet," jelas Ihsan.

Setelah itu anak-anak pun makan bersama. Masing-masing anak mendapat nasi kotak berisi nasi kuning dengan lauk ayam goreng dan mi goreng. Bocah-bocah itu pun makan dengan lahap. Nyam nyam!

"Kami sengaja mengambil tempat ini sebagai kritik saya bahwa tempat seperti ini masih ada. Acara ini untuk memperingati hari anak, tapi mundur karena terbentur pilkada DKI," terang Azas Tigor.

Kegiatan tersebut mengambil tema 'Jakarta layak anak'. Kegiatan juga digelar untuk memperingati hari pangan sedunia.

"Banyak anak yang sehat, tapi masih ada juga yang kekurangan pangan. Sejak Mei lalu ada 34 kampung miskin yang sudah didata, lalu terbentuk forum anak," sambung Azas.

(vit/ndr)


Berita Terkait