"DK akan dipanggil pada Senin pekan depan," kata Jubir KPK Johan Budi SP di kantornya, Jl Rasuna Said, Jaksel, Jumat (12/10/2012).
KPK sampai saat ini baru menetapkan satu tersangka dalam kasus dugaan korupsi pembangunan Pusat Pelatihan Pendidikan dan Sekolah Olaharaga Nasional Hambalang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain penyidikan terkait Dedi ini, KPK melakukan penyelidikan cabang kasus Hambalang yang lain. Di cabang kasus yang ini, KPK menyelidiki mengenai aliran uang dalam kongres Demokrat ini.
Mengenai kongres Demokrat ini, KPK pada Selasa pekan lalu memanggil Ketua DPP Demokrat Umar Arsal.
Salah satu tim sukses Ketua Umum PD Anas Urbaningrum dalam kongres Partai Demokrat 2010 itu mengaku pemeriksaannya terkait penyelenggaraan kongres.
Nama Umar mencuat dalam sidang Nazaruddin. Namanya disebut mantan Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat Minahasa Tenggara Diana Maringka. Dalam kesaksiannya, Diana mengaku mendapat uang 7.000 dollar Amerika Serikat, Rp 100 juta, dan Rp 30 juta dalam beberapa tahap selama kongres.
Menurut Diana, uang tersebut terkait pemenangan Anas Urbaningrum dalam kongres. Uang tersebut diperoleh dari Umar. Umar mengakui memang sempat membagikan uang transportasi untuk sejumlah DPC.
Anas memang pemenang dalam kongres di Bandung pada 2010 itu. Namun bukan karena itu peran Anas ditelusuri. Seperti dinyatakan oleh mantan Bendum Demokrat M Nazaruddin, Anas disebut menerima mobil Toyota Harrier pada November 2009, yang mana dana pembelian kendaraan itu berasal dari PT Adhi Karya dan PT Wijaya Karya yang telah memenangkan tender proyek Hambalang.
Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas pernah menyatakan, pihaknya telah menemukan petunjuk yang mengarah pada keterlibatan Anas Urbaningrum ini.
"Berdasarkan petunjuk-petunjuk atau pernyataan-pernyataan yang ada memang seperti itu. Tapi petunjuk belum bisa disimpulkan sebagai bukti, harus disaturangkaikan dengan bukti-bukti lain," kata Wakil Ketua KPK, Busyro Muqoddas, di Jakarta, Kamis (4/10/2012) saat ditanya apakah ada indikasi ke arah keterlibatan Anas.
"Sudah kita ketahui ada sopir Anas dipanggil dan seterusnya. Jadi kita mengapresiasi setiap informasi atau petunjuk-petunjuk yang masuk kita kembangkan," sambung Busyro.
Anas yang telah diperiksa KPK terkait kasus Hambalang ini membantah apa pun tudingan keterlibatan kepada dia terkait dugaan korupsi proyek pembangunan fasilitas olahraga di Hambalang, Bogor, Jawa Barat.
"Apa saya tahu soal proyek Hambalang? Saya jelaskan tidak tahu dan bagaimana proyek Hambalang itu," kata dia beberap waktu lalu.
Ia juga mengaku mendapat pertanyaan apakah dirinya memerintahkan anggota Fraksi Partai Demokrat, Ignatius Mulyono, mengurus sertifikat tanah di Hambalang. "Apa saya memerintahkan Pak Mulyono, saya jawab saya tidak pernah memerintahkan untuk mengurus sertifikat tanah Hambalang," ujar Anas.
(fjp/aan)











































