Thiolina Ferawati Marpaung (37) atau akrab disapa Lina asal Medan. Pada 12 Oktober 2002 malam, ia bersama tiga rekannya tengah asik menikmati suasana Kuta yang dipadati oleh wisatawan mancanegara dan domestik.Dari dalam mobil, ia bercengkaram dengan dua orang rekannya, yaitu Gatot Indra Suranto dan Dewa Ketut Rudita dalam satu mobil. Namun, beberapa meter dari Sari Club, Jl Legian, kemacetan sangat parah. Pasalnya, pelaku bom bunuh diri tengah mempersiapkan diri meledakkan bom mobil di depan target.
"Sebelum bom meledak, saya terjebak macet di depan SC. Kira-kira kami ada di deret mobil nomor delapan dari pusat ledakan di Sari Club. Awalnya, saya mendengar suara dentuman. Saya pikir ada dorong mobil. Tak lama kemudian, suara ledakan lebih dahsyat terjadi. Tiba-tiba saya melihat pak Gatot sudah mmenunduk di atas kemudi. Saya langsung merasakan gelap gulita. Tak melihat apa-apa. Hanya terdengar suara gaduh dan teriakan," ujarnya mengenang kejadian buruk yang dialaminya kepada detikcom di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Jimbaran, Jumat (12/10/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Teman sayaa berhasil keluar, tak lama mobil kami meledak. Teman saya mengalami luka bakar karena bajunya yang terbakar melekat di tubuhnya.
Ia pun dilarikan ke RSUP Sanglah bersama ratusan korban bom lainnya. Ia menjalani perawtaan mata di RSUP Sanglah dan Rumah Sakit Mata Aini di jakarta. Akhirnya saya mendapatkan bantuan dari John Fawcett foundation, sebuah yayasan yang menangani penderita mata. Saya langsung terbang ke RS Royal Perth. Di tempat ini saya menjalani operasi mata kiri yang terluka akibat hantaman pecahan kaca mobil akibat ledakan bom. setelah itu saya bolak balik Bali-Australia," jelasnya.
Setelah sembuh, ia kembali bekerja. Tapi tak lama, tiba-tiba mata kanan sakit. Namun, matanya tak kembali normal. Pandangan matanya tak fokus.
"Saya kembali diperiksa. Tenyata masih ada pecahan kaca sebesar butiran jagung. Saya kembali dioperasi di RS Royal Perth," katanya.
(gds/fdn)











































