Pesawat itu diterbangkan dari hanggar dengan remote control yang dikendalikan dari mobil Toyota Kijang yang telah dimodifikasi. 1 Petugas terlihat serius mengatur kendali pesawat.
Pengamatan detikcom, pesawat motif loreng dan berwarna hijau diperkirakan memiliki panjang sekitar 4 meter. Panjang badan pesawat hingga ekor pesawat 4 meter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
6 Prototipe pesawat tanpa awak itu juga dipamerkan dan dijejerkan. Pesawat-pesawat itu merupakan hasil riset Balitbang Kemenhan yang bekerjasama dengan BPPT sejak tahun 2005.
"Jadi yang di sini prototipenya sebagai produk hasil riset. Semua sudah diuji terbang, dan semua auto pilot, mulai dari Sriti, Gelatik dengan tempat peluncuran dan pendaratan yang terbatas," papar perekayasa BPPT, Adrian Zulkifli.
Selain itu, kata dia, ada pesawat Alap-alap yang didesain untuk jarak sedang.
"Dan memantau kondisi kira 40 meter di depan kita,
berguna pengoperasiannya untuk kapal perang," ujar dia.
Ada juga pesawat besar untuk jarak menengah dan jauh yakni Puna Gagak, Puna Pelatuk dan Puna Wulung.
"Jaraknya bisa mencapai 73 km. Tetapi ini belum menggunakan satelit. Kalau memakai satelit, bisa jauh lagi. Untuk jarak 73 km menghabiskan bahan bakar sebanyak 20 liter bensin atau pertamax," kata Adrian.
Namun demikian, lanjut dia, pesawat itu belum digunakan karena masih prototipe. "Tetapi sudah ada rencana untuk mengelola kawasan perbatasan maupun pemotretan areal tertentu, bisa juga untuk bencana," ujar dia.
Adrian menambahkan biaya pembuatan pesawat tersebut diambil dari kantong dana DIPA.
"Rp 2 miliar untuk satu pesawat, engine diambil dari Jerman, kamera bisa pakai dari Taiwan. Total biaya keseluruhan Rp 7 hingga 8 miliar. Singapura dan Malaysia juga sudah mengembangkan," kata Adrian.
(aan/asy)











































