Pulau Maitara yang terletak di kawasan Maluku Utara ini memang ada di gambar uang kertas pecahan Rp 1.000. Bersama dengan Pulau Tidore, Maitara menjadi icon dalam uang itu.
Tapi bukan itu saja yang menarik dari pulau nan cantik ini. Sebanyak 881 Kepala Keluarga (KK), 100 persennya sudah menggunakan listrik pintar atau pembayaran dengan pra bayar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Listrik pra bayar ini ada sejak Juli 2011," kata Kepala Desa Maitara, Abdul Rasyid Arif, di Pulau Maitara, Rabu (10/10/2012).
Beberapa tahun sebelumnya, pulau ini sangat tergantung dari listrik yang dikeluarkan oleh genset pemberian pemda. Genset itu memberikan aliran listrik kepada sekitar 405 rumah.
Namun biaya yang harus dikeluarkan sangatlah mahal. Untuk pembelian solar, setiap keluarga diharuskan urunan sebesar Rp 100 ribu.
Tidak hanya itu saja, listrik baru bisa menyala sejak pukul 18.00 hingga 24.00 saja. Pagi hingga siang, praktis pulau ini seperti kembali ke jaman batu alias tak beraliran listrik.
"Pas jelang subuh, yah gelap lagi pulaunya," jelas Abdul.
Namun kini semua berubah setelah kehadiran listrik dari PLN. Terlebih lagi, kabel laut dari Ternate pun sudah terpasang. Belum lagi back up PLTU dari Pulau Tidore yang jaraknya hanya 350 meter.
"Kami juga dapat suplai listrik dari seberang," lanjutnya.
Menurut salah satu warga, Hamsia (35), listrik pra bayar ini membuat penduduk jadi lebih berhemat. Kini biaya mereka keluarkan Rp 50 ribu untuk hampir dua bulan.
"Dulu untuk bayar solar Rp 100 ribu, sekarang Rp 50 ribu bisa sebulan lebih," kata ibu ini.
Kehidupan di pulau ini pun menjadi lebih hidup. Sebagian dari mereka pun ada yang memasang panel surya di perahu-perahunya. Setelah cukup menyimpan sinar matahari, panel surya ini pun dipasang di rumah mereka untuk memback-up listrik.
(mok/ndr)










































