Dubes: Seniman Kita Duta Budaya Setara Al Jarreau

Laporan dari Stockholm

Dubes: Seniman Kita Duta Budaya Setara Al Jarreau

- detikNews
Rabu, 10 Okt 2012 16:52 WIB
Dubes: Seniman Kita Duta Budaya Setara Al Jarreau
Stockholm - Konserthuset, Stockholm. Tiap denting nada dan alunan suara di sini dipantulkan sempurna seindah naviri. Konstruksi interior akustiknya mengagumkan. Prestisius. Previlege para bintang, diantaranya Al Jarreau. Tapi seniman kita bisa lolos konser ke sini.

Disaksikan sekitar 300 orang para distinguished, pejabat kerajaan, pemerintah Swedia, Duta Besar asing, kalangan diplomat dan bisnis, mahasiswa serta tokoh masyarakat setempat, para seniman kita itu menuai standing ovation, penuh takzim, takjub.

Diantara para tamu terhormat itu, menurut keterangan Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Stockholm Erlinda Sutendri, terdapat First Marshall of the Court Mats Nilson, Kepala Protokol Caroline Vicini, dan Walikota Stockholm Margareta Byork.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Fabulous. Menakjubkan. Negara saya juga terkenal dengan tari dan musik tradisionalnya, tetapi ketika saya duduk hadir disini saya menyaksikan sebuah pertunjukan seni yang sangat luarbiasa. Saya angkat topi atas penampilan profesional Dubes Sastrawan dan timnya," ujar Dubes Georgia, Konstantin Kavtaradze.

"Marvelous. Mengagumkan. Saya beruntung untuk bisa hadir menyaksikan pertunjukan seni Indonesia ini dan kedengarannya sedikit ada kesamaan dengan musik Jepang, maksud saya bunyi rebab dan siternya," timpal Dubes Jepang Yoshiki Watanabe.

"Wonderful. Hebat, hebat, hebat... Pertunjukan ini merefleksikan betapa Indonesia sangat kaya seni budaya, kaya tradisi dan kami semua sangat menikmati," imbuh Dubes Arab Saudi Dr Abdulrahman M. Gdaia.

Ketiga Dubes negara sahabat dari tiga benua berbeda itu menjawab pertanyaan detikcom disela- sela pemberian ucapan selamat kepada Duta Besar RI Luar Biasa Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Swedia Dewa Made Juniarta Sastrawan seusai resepsi diplomatik HUT Kemerdekaan RI ke-67 di Konserthuset (Concert Hall), Stockholm, Jumat (5/10/2012).

Ada lima komposisi dimainkan dalam koser live bertema Javanese Gamelan and Dance Performances, berturut-turut: Donga Pamuji, Yen Ing Tawang Ono Lintang, Sampur Kuning, Ayun-ayun Tanjung Gunung, dan Perahu Layar, ditambah satu komposisi Tari Blambangan Cakil, dengan tempo cepat dan irama dinamis.

Terlihat formasi pemain di belakang instrumen yang dimainkan grup dengan nama Riris Genta Raras ini, antara lain Dubes Dewa Made Juniarta Sastrawan (Slenthem), Hanna Sastrawan, istri Dubes (Bonang Penerus), Berty Elling (Bonang Barung), Endang Purwanto (Demung I), Aditya Jatmiko (Demung II), Arya Jatmiko (Saron I), Tri Asih Istiani Jatmiko (Saron II).

Kemudian Yanti Sastrawan, puteri Dubes (Saron III), Cecilia Matteoni (Saron Penerus), Ryan Priyanto (Sitter), Janto Marzuki (Kenong), Julia Suhariyanto (Gong dan Kempul), Sutendri Yusuf (Kendang, Rebab dan Suling, merangkap konduktor dan pelatih).

"Kalau orang asing sangat mengagumi seni budaya kita, maka sudah seyogyanya kita lebih peduli pada para seniman kita. Kita muliakan para duta budaya kita itu, kita tampilkan high profile," ujar Dubes.

Menurut Dubes, dia sengaja menata resepsi diplomatik dengan format pertunjukan, show, dengan mendayagunakan potensi masyarakat diaspora Indonesia, warga Swedia sahabat Indonesia dan staf KBRI Stockholm, dan menjadikan mereka sebagai bintang.

"Umumnya para seniman ditempatkan di latar belakang sebagai pemeriah, tapi saya menempatkan mereka sebagai pusat perhatian, sebagai bintang. Perlu diketahui, hanya konser para bintang yang bisa tampil di Konserthuset ini, diantaranya Al Jarreau," imbuh Dubes.

Diplomat karir itu mengatakan bahwa dia ingin ada terobosan dalam format resepsi diplomatik. Menyajikan sesuatu yang baru.

Menurut Dubes, resepsi diplomatik untuk merayakan hari ulang tahun kemerdekaan atau hari nasional itu agenda umum perwakilan setiap negara di negara asing. Ada penyampaian pesan, ramah-tamah, ucapan selamat, terus pulang. Begitulah rutin setiap tahun.

"Saya berpikir bagaimana resepsi bisa mendatangkan manfaat tambahan untuk negara. Oleh sebab itu saya menyisipkan diplomasi kebudayaan dan promosi pariwisata dengan konser gamelan live ini," jelas Dubes.

Lanjut Dubes, langkah tersebut juga sebagai apresiasi kepada masyarakat diaspora Indonesia di Swedia, yang tekun berlatih dan memelihara musik karya agung warisan nenek moyang.

Sebelumnya, Dubes meyakinkan bahwa para pemain layak tampil di Konserthuset dan untuk itu dia secara khusus membicarakannya dengan konduktor sekaligus pelatih, Sutendri Yusuf. Bahkan Dubes dan keluarganya yang asli Bali, ikut memperkuat tim gamelan dan berlatih spartan.

"Mungkin tak banyak diantara kita yang menyadari bahwa orang asing itu, termasuk di Swedia ini, sangat mengagumi kebudayaan Indonesia. Musik, tari, bahkan busana daerah kita yang beraneka ragam itu sangat indah," pungkas Dubes, yang juga berencana akan menampilkan gamelan Bali, musik Indonesia moderen atau seni budaya daerah lainnya.

Resepsi diplomatik dibuka dengan lagu kebangsaan Indonesia dan Swedia yakni "Indonesia Raya" oleh Prasetyo Widodo dan "Du Gamla, Du Fria" oleh Reza Ningtyas, diaspora Indonesia yang pernah sukses masuk putaran final Swedish Idol 2009.

Begitu dua lagu kebangsaan senyap di langit-langit Konserthuset, Dubes menyampaikan sambutan, menyugesti para tamu untuk terbang bersama sakralnya nada gamelan, membayangkan keindahan Indonesia dan mengunjungi Indonesia. Sajian kuliner Nusantara menjadi a cherry on the cake acara resepsi malam itu.
(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads