"Ini merupakan momen penting dalam sejarah Indonesia dan Asia Tenggara. Model baru untuk pembangunan ekonomi dan pemerintahan sedang didirikan, dan saya ingin memberikan rasa hormat pada ayah saya dengan memberikan perhatian pada institusi kelas dunia yang tidak hanya memberikan ide, tetapi menjadikannya kebijakan yang relevan dan aplikatif," ujar Hashim Djojohadikusumo, dalam siaran pers yang diterima oleh detikcom, Rabu (10/10/2012).
Pusat kajian ini akan melakukan penelitian tentang hubungan antara Indonesia dengan Amerika Serikat dan Asia Tenggara serta mengikutsertakan program proaktif untuk mendukung pengertian lebih dalam dan hubungan lebih dekat dengan Amerika Serikat dan Asia Tenggara. Elemen penting tersebut antara lain
studi komprehensif terhadap hubungan masa depan antara A.S-Indonesia, kunjungan tahunan dari anggota Kongres AS dan staf ke Indonesia,
kunjungan oleh Parlemen Indonesia dan staf ke Amerika Serikat. Selain itu hal lain yang penting adalah, pendanaan terhadap warga Indonesia, baik akademisi maupun pejabat, yang akan menjadi kontributor tetap CSIS di Washington DC, juga tentang studi tentang integrasi ekonomi ASEAN.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Acara peresmian ini dilaksanakan di Gedung CSIS Washington DC dihadiri sekitar 100 orang tokoh antara lain Duta Besar negara Asia Tenggara termasuk Dubes RI untuk AS, Dino Pati Djalal. Sejumlah tokoh intelektual dan politisi AS juga hadir, seperti Senator William Brock yang juga pernah menjabat Menteri Buruh di zaman Presiden Ronald Reagen dan John J Hamre, Presiden dan CEO CSIS. Hadir juga penulis dan analis Michael J Green, Murray Hiebert, Chris Johnson, Robert Pringle, Larry Bailey, dan lain-lain.
Pendanaan Pusat Kajian ini didukung oleh Yayasan Arsari Djojohadikusumo, yang didirikan pengusaha Indonesia Hashim Djojohadikusumo untuk mengingat
perjuangan almarhum ayahnya, Profesor Sumitro Djojohadikusumo. Dr Sumitro bekerja sama dengan Yayasan Ford tahun 1950-an dalam mengirim ekonom Indonesia ke Amerika Serikat untuk studi S3 di bidang ekonomi. Sumitro juga pernah menjadi wakil misi Indonesia tahun 1947-1949 di AS ketika kemerdekaan Indonesia masih harus diperjuangkan di Konferensi Meja Bundar dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
(riz/nrl)










































