Bom Kedubes Australia, Pembenaran Travel Warning AS?

Bom Kedubes Australia, Pembenaran Travel Warning AS?

- detikNews
Jumat, 10 Sep 2004 05:58 WIB
Jakarta - Ledakan bom di depan Kedubes Australia, kemarin, makin menambah rentetan peristiwa teror di Indonesia. Peristiwa ini seakan menjadi rutinitas tahunan yang mengguncang negeri ini. Tapi, benarkah ledakan yang menewaskan 9 orang itu merupakan pembenaran adanya travel warning yang dikeluarkan Amerika Serikat beberapa waktu lalu?Menjelang peringatan tragedi WTC yang jatuh pada 11 Sepetember, Pemerintah AS sempat mengeluarkan travel warning kepada warganya untuk menunda kunjungan ke Indonesia, (7/9/2004). Hotel-hotel di Indonesia terutama yang menjadi simbol barat pun diingatkan agar meningkatkan kewaspadaan.Pihak Deplu AS mengaku, telah menerima informasi bahwa gerakan Jamaah Islamiyah (JI) akan menyerang kepentingan AS dan kepentingan barat di Indonesia. Dan tidak tertutup kemungkinan bahwa gerakan JI akan memanfaatkan momen Pilpres 20 September mendatang.Sebenarnya adanya travel warning AS bukanlah hal yang baru bagi Indonesia. Pasalnya, tiga bulan lalu pun AS juga mengeluarkan kebijakan yang sama yakni menghimbau warganya untuk tidak ke Indonesia.Dan seperti biasa, pemerintah Indonesia pun menanggapi dengan reaksional. Pemerintah menilai pemberlakuan himbauan tersebut tidak adil. Bahkan, hasil dalam rakor polkam, (8/9/2004) lalu, justru makin mempertegas sikap awal."Pernyataan itu terlalu berlebihan meski untuk melarang warganya datang kesini itu hak mereka. Menjelang pilpres situasi bisa dikendalikan. Jadi, untuk adanya serangan teroris saya rasa belum tentu terjadi," kata Menko Polkam ad interim Hari Sabarno usai rapat.Bila dicermati, ledakan bom kedubes Australia tersebut memang terlihat terkait dengan travel warning. Australia yang dikenal sebagai sekutu AS tentu saja bisa dikategorigan sebagai salah satu sasaran tembak kelompok JI yang mengancam kepentingan barat di Indonesia seperti yang tercantum dalam pernyataan Deplu AS tersebut.Pengamat hubungan internasional dari CSIS Bantarto Bandoro mengatakan, apa yang terjadi di kedubes Australia juga merupakan peringatan bagi AS. "Menghancurkan simbol AS langsung kan susah makanya mereka lebih mengincar sekutunya. Apalagi Australia memang sudah lama menjadi target pelaku teror," kata Bantarto dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (10/9/2004).Dan peristiwa tersebut, menurutnya memang bisa dikategorikan sebagai pembenaran dari pelarangan berpergian tersebut. "Ini kan juga berarti warning ke AS bahwa ancaman yang ada dalam travel warning benar-benar ada," ujar Bantarto.Terkait atau tidak dengan travel warning mungkin tidak terlalu menjadi masalah bagi kita. Tapi, yang penting adalah bagaimana pemerintah bisa berupaya penuh menaikkan kembali citra Indonesia yang kian lama kian terpuruk. Dan belajar dari pengalaman, adanya travel warning yang diberlakukan ke Indonesia hendaknya bukan ditanggapi dengan bantahan bahwa kita negeri yang aman tapi dengan makin meningkatkan pengamanan dan operasi intelijen sebagai early warning system. (sss/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads