Puteh dan GAM (2)
Sumbangan untuk Rekonsiliasi
Jumat, 10 Sep 2004 03:31 WIB
Banda Aceh - Tak tanggung, ketika GAM dan pemerintah RI melakukan rekonsiliasi dalam masa Kesepakatan Penghentian Permusuhan (COHA), Gubernur NAD Abdullah Puteh mengeluarkan dana tak kurang Rp 13 miliar.Dana yang bersumber dari APBD itu dibuat untuk kenduri 'rekonsiliasi' dan juga berbagai bantuan untuk korban konflik. "Jadi tidak benar kalau saya pernah menyumbang dana untuk GAM," tegasnya."Saat itu kan sudah COHA, sudah rekonsiliasi, dibuat kenduri di mana-mana waktu itu. Semua kita bagi, untuk kenduri, untuk korban koflik, untuk apa, karena saat itu rekonsiliasi," papar Puteh, sembari menyebutkan dana Rp 13 miliar itu dibaginya lewat bupati dan walikota.Meski begitu, Puteh mengungkapkan, memang pernah ada dana bantuan Rp 5 juta untuk anggota GAM bernama Said Mustafa. Tapi dana itu diperuntukkan bagi ongkos Said Mustafa ke Singapura untuk melakukan lobi, agar pimpinan GAM Hasan Tiro mau berbicara pada seminar yang diketuai Puteh saat itu."Uang itu juga dari Rusli Bintang, pengusaha Aceh yang waktu itu menjadi donatur pada seminar yang akan digelar. Saya tegaskan, saya tidak pernah menjanjikan berapa pun uang kepada GAM," tukasnya dalam jumpa pers di Kantor Gubernur NAD jalan Tengku Daud Beureueh, Banda Aceh, Kamis (9/9/2004).Pertemuannya dengan GAM pada waktu itu, setelah menjadi gubernur, disebutnya karena posisinya sebagai gubernur. "Saya gubernur, saya ketua Bakorinda, tahu. Badan Koordinasi Intelijen Daerah, apa bedanya saya dengan menteri, intelijen di bawah saya," ujar Puteh dengan suara meninggi.Ditegaskan Puteh, jika Mabes Polri memeriksanya terkait dugaan keterlibatannya dengan GAM, dirinya siap."Saya yang meminta Kodam didirikan di Aceh, saya yang meminta operasi militer ditingkatkan di Aceh ketika pada masa COHA kita lihat GAM kembali kuat, saya minta COHA dihentikan. Saksinya SBY waktu itu yang kini calon presiden. Kalau saya ingin bertemu dengan GAM, semata-mata dalam rangka untuk menyadarkan mereka, supaya mereka kembali ke pangkuan ibu pertiwi," katanya."Kalau karena itu saya dituduh GAM dan harus ditembak, saya pikir wartawan yang ada di sini yang pernah bertemu dengan GAM juga harus ditembak. Sebenarnya bukan pada gaya atau baju kita, tapi ideologi kita. Dari kecil saya merah putih. Ayah saya tidak pernah terlibat DI/TII waktu kami di kampung dulu di Idi," paparnya.Ditanya apakah ada tujuan politis dengan tuduhan itu, dengan diplomatis Puteh menjawab, para wartawan yang ada di depannya sudah cukup dewasa untuk menafsirkan sendiri."Tapi pernyataan-pernyataan itu sangat tendensius menyerang martabat dan kehormatan pribadi saya, serta sarat dengan muatan-muatan, bahkan rekayasa politik," katanya.Berawal dari Nyanyian Said MustafaIhwal tuduhan keterlibatan Puteh itu bermula dari laporan yang didapat aparat keamanan di Aceh lewat mulut anggota GAM, Said Mustafa, yang kini sudah menjadi tahanan Polda NAD.Nyanyian Said Mustafa itu kemudian ditulis oleh tabloid lokal di Aceh Modus sepekan lalu. Tulisan tersebut menjadi ramai dibicarakan dan juga mendapat tanggapan tak sedap dari Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto.Said Mustafa dulu yang menjadi 'kaki' ketika Abdullah Puteh bertemu dengan Perdana Menteri GAM Malik Mahmud di Singapura, ketika Puteh belum menjabat sebagai Gubernur NAD, pada penghujung tahun 1999.Dalam kronologi yang dibuat Puteh, disebutkan ketika itu Puteh menjadi ketua panitia seminar 'Format Ideal bagi Masa Depan Aceh'. Sebagai ketua panitia, saat itu Puteh berinisiatif untuk mempertemukan pemikir-pemikir RI dan kelompok elit GAM.Puteh berniat menghadirkan pimpinan GAM Hasan Tiro sebagai pembicara. Tapi kemudian hanya bisa bertemu dengan Malik Mahmud, yang kemudian tidak bersedia menjadi pembicara pada seminar itu."Waktu itu, Malik Mahmud, yang juga merupakan orang kepercayaan Hasan Tiro menyebutkan, bagi GAM hanya ada kata merdeka. Tidak ada otonomi khusus," cerita Puteh mengenang pertemuannya.Saat itulah dipakai jasa Said Mustafa untuk mempertemukan Puteh dengan Malik Mahmud. Perkenalan Puteh dengan Said Mustafa dijembatani oleh Rusli Bintang. Ketika itu dikatakan Said Mustafa merupakan orng GAM yang sudah menyerah dan kembali ke NKRI.Meski kemudian GAM tidak hadir, seminar yang dibuka oleh Ketua MPR RI Amien Rais dan ditutup oleh Ketua DPR RI Akbar Tandjung tetap digelar di Hotel Sheraton, Jakarta."Dalam seminar itu juga hadir tokoh Aceh dan tokoh nasional, seperti Said Aqil Sirajd, Ismail Hasan Meutareum, Surya Paloh, bahkan Muhammad Nazar dari SIRA," terang Puteh.Hasil dari seminar tersebut, menurut dia, diharapkan dapat menjadi masukan bagi upaya penyusunan draft UU Otonomi Khusus bagi Provinsi NAD."Hal yang sama juga saya lakukan ketika 12 Mei 2001 terjadi pertemuan pertama antara Dubes RI di Jenewa Hassan Wirajuda dengan kelompok GAM di bawah kepemimpinan Hasan Tiro," demikian Puteh.
(sss/)











































