"Benihnya dapat dari Jawa Barat kemudian saya tanam lalu setelah keluar tunasnya kemudian saya yakin ini bunga bangkai. Untuk pertama kali ini saya coba di pot," terang Abeh di kediamannya, Jalan Pembina II RT 13/RW 2, Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (8/10/2012) malam.
Abeh mengaku dirinya memang hobi tanaman langka. Bunga dengan bau busuk ini sebenarnya sudah tumbuh sejak setahun lalu di sekitar rumah Abeh. Pada saat awal membeli benihnya, Abeh tidak yakin kalau itu benar-benar bunga Bangkai. Namun setelah tumbuh dan keluar bau menyengat barulah ia yakin dan lalu memelihara tanaman tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Luas rumah Abeh ini 300 meter persegi, dan sepertiganya adalah pekarangan berupa tanah, sisanya bangunan rumah bergaya Betawi. Pekarangan tanah itu ditanami Abeh dengan tanaman obat-obatan herbal seperti kumis kucing, srikaya, ciplukan, lidah buaya, ginseng, jahe merah, temulawak, jarak dan lain-lain. Ada yang ditanamnya di tanah dan ada pula yang ditanam dalam pot.
Jarak antara pagar dan teras sekitar 2,5 meter. Ada batu paving untuk jalan setapak dari pagar ke teras. Bunga bangkai tidak ditaruh di pekarangan melainkan di teras rumah dengan wadah pot besar.
Abeh, ayah 4 anak ini, kini merawat bunga bangkai itu dengan memberinya pupuk kimia Mutiara yang mengandung unsur Nitrogen, Phosphor dan Kalium (NPK). Dia juga mempersilakan bila ada warga yang ingin melihat bunga bangkai itu.
(rmd/rmd)











































