Dubes: Indonesia Kontributor Perubahan di Dua Benua

Laporan dari Stockholm

Dubes: Indonesia Kontributor Perubahan di Dua Benua

- detikNews
Jumat, 05 Okt 2012 17:06 WIB
Dubes: Indonesia Kontributor Perubahan di Dua Benua
Stockholm - Kemerdekaan pada 17/8/1945 sampai reformasi pada akhir 1990-an telah menjadikan Indonesia salah satu negara paling demokratis di dunia. Indonesia juga telah menyumbang banyak perubahan di dua benua.

Hal itu disampaikan Duta Besar RI Luar Biasa Berkuasa Penuh untuk Kerajaan Swedia Dewa Made Juniarta Sastrawan dalam resepsi diplomatik HUT Kemerdekaan RI ke-67 di Konserthuset, Stockholm, Kamis malam atau Jumat (5/10/2012) WIB.

Dubes sebagai personifikasi Indonesia mendapat ucapan selamat dari para pejabat tinggi pemerintah Swedia, para Dubes negara sahabat, kalangan diplomat asing, bisnis, mitra setempat, pemuka masyarakat dan mahasiswa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di hadapan sekitar 300 tamu asing, Dubes sebelumnya menyampaikan bahwa kemerdekaan Indonesia telah diproklamirkan oleh Bapak Pendiri Bangsa Soekarno dan Hatta pada 17/8/1945.

"Sejak kami memproklamirkan kemerdekaan 67 tahun lalu, kami telah melalui begitu banyak perubahan, dan reformasi politik pada akhir 90-an telah mengubah Indonesia menjadi salah satu negara paling demokratis di dunia," ujar Dubes.

Lanjut Dubes, Indonesia adalah anggota pendiri gerakan Non-Blok dan tuan rumah Konferensi Asia Afrika pada 1955, yang telah menyumbang banyak perubahan di kedua benua.

Hal itu dimungkinkan sebab sejak merdeka Indonesia menganut politik luar negeri berbasis pada prinsip bebas-aktif dalam menciptakan dunia sebagai tempat untuk hidup yang lebih baik. Seiring dengan itu Indonesia telah aktif berpartisipasi dalam banyak misi PBB untuk memelihara perdamaian.

"Kemerdekaan juga memberi kami kebebasan dan kekuatan untuk membangun bidang sosial dan ekonomi kami," cetus Dubes.

Bangsa Indonesia, imbuh Dubes, percaya bahwa kemerdekaan tidak hanya memberikan kebebasan, tetapi juga menjadikan semangat utama dalam pembangunan bangsa dan ekonominya.

Menurut Dubes, Indonesia yang lebih demokratis juga telah menjadikan banyak ruang dan peluang bagi Indonesia untuk membawa kawasan ASEAN menjadi sebuah kawasan lebih demokratis, yang akan membantu ASEAN menjadi masyarakat lebih makmur dan bersatu.

Sekarang ini, didorong oleh peningkatan investasi dan konsumsi domestik yang kuat pada 240 juta penduduknya, ekonomi Indonesia telah teruji tahan terhadap kemunduran global, dengan pertumbuhan ekonomi lebih dari 6% selama 2 tahun terakhir.

"Lebih tinggi dari rata-rata seluruh dunia. Oleh sebab itu, sebagai anggota G20 Indonesia juga mempunyai banyak peluang untuk memberi kontribusi efektif pada proses tingkat tinggi," papar Dubes.

Bilateral dan Diaspora

Menyinggung hubungan bilateral Indonesia-Swedia, Dubes mengatakan bahwa kedua negara menikmati hubungan bilateral sangat baik sejak hubungan diplomatik antar keduanya dibuka pada awal 1950-an.

Bahkan menurut Dubes, hubungan antar masyarakat kedua negara telah dimulai jauh sebelum dibuka hubungan diplomatik kedua negara. Perusahaan-perusahaan Swedia, Ericsson dan SKF telah memulai usaha mereka di Indonesia masing-masing pada 1914 dan 1919.

"Kami juga mencatat bahwa pada awal 1900 Java Coffee sudah sangat terkenal di Swedia. Ini semua tidak mungkin tanpa ada perdagangan aktif antara kedua masyarakat," terang Dubes.

Dubes menambahkan bahwa dia mewakili pemerintah dan bangsa Indonesia kini sangat senang melihat ada lebih dari 70 perusahaan Swedia beroperasi di Indonesia dan kedua negara menikmati hubungan perdagangan dan investasi yang stabil.

"Kami juga senang melihat bahwa hubungan bilateral yang kuat sejak pertegahan abad lalu telah menghasilkan diaspora Indonesia di Swedia sejak akhir 50-an. Karena kehadiran kuat diaspora Indonesia ini, KBRI Stockholm membawa Gamelan Jawa ini ke Swedia," demikian Dubes, seraya menjelaskan ragam gamelan, filosofi, tradisi, bagaimana memainkan dan aplikasinya.

Resepsi diplomatik dimeriahkan dengan Tari Bambangan Cakil dan konser live orkestra gamelan, menampilkan komposisi Donga Pamuji, Yen Ing Tawang Ono Lintang, Sampur Kuning, Ayun-ayun Tanjung Gunung, dan Perahu Layar.

Para pemain gamelan dan pesinden adalah para diaspora Indonesia, warga Swedia, staf KBRI dan keluarganya, di bawah bimbingan maestro Sutendri Yusuf. Dubes, istri dan seorang puterinya ikut main penuh sampai rangkaian konser selesai. Sajian kuliner Nusantara menjadi a cherry on the cake acara resepsi diplomatik malam itu. Dirgahayu!

(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads