Setelah lulus, Dewi Indriani (23) asal Brebes dan Vinny Riamona Mahardika (19) asal Cirebon, pun langsung dikontrak oleh kementerian PDT untuk dikirim ke Garabak Data, Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok, Provinsi Sumbar. Selama 6 bulan mereka mengabdi di daerah terpencil tanpa listrik yang harus ditempuh selama sehari semalam dari ibukota kecamatan Bajanjang, Tigo Lurah.
Sampai sekarang dua dara ini pun belum pernah pulang ke kampung halaman mereka masing-masing. Pada saat datang ke kabupaten Solok, pertama kali mereka menginap di rumah bupati Solok, Syamsu Bahri. Tinggal selama 3 hari, mereka melanjutkan perjalanan ke Batu Bajanjang dan melanjutkan dengan jalan kaki ke Grapak Badata selama satu hari satu malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kaki kami semuanya pada lecet," cerita Vinny dan Dewi saat berbincang dengan detikcom di rumah dinas bupati Solok(02/10/2012).
Sebetulnya ada alternatif perjalanan ke Garabak Data dari Solok. Namun itu harus melewati jalur utara kecamatan Tigo Lurah dengan mengendarai ojek selama 3 sampai 5 jam dengan tarif 150 ribu sekali berangkat.
Antara kecamatan Tigo Lurah dan Garabak Dara padahal tidak terlalu jauh. Namun jarak 22 kilometer agar sampai ke sana harus melewati kondisi jalan yang berbukit. Kondisi jalan yang berbatu dan lumpur yang lembek jika hujan membuat Garabak Data sulit ditempuh. Ketika hujan datang, Vinny dan Dewi harus menggunakan sepatu khusus untuk bepergian.
Selain mengeluh sulitnya perjalanan ke Garabak Data lokasi tempat mereka tertinggal, bekal yang mereka bawa pun saat pertama kali hanya bidan kit (peralatan medis) dan obat-obatan seadanya. Peralatan medis seperti ranjang persalinan dan listrik penerangan pun belum ada di sana. Karena adat di Garabak Data ketika persalinan semua pintu dan jendela harus ditutup rapat, akhirnya mereka berdua hanya menggunakan senter untuk membantu penglihatan.
Makanya, ketika menteri Pembangunan Daerah Tertinggal datang ke Kabupaten Solok, Vinny dan Dewi menagih peralatan medis yang memadai. Selain itu, keduanya meminta agar infrastruktur jalan diperbaiki. Hal ini karena menurut mereka agar warga yang sakit parah dapat dirujuk ke rumah sakit. Walaupun di sana ada Puskesri (Pusat Kesehatan Nagari) namun peralatan kesehatan sama sekali tidak ada. Obat-obatan penunjang dan peralatan persalinan pun belum tersedia.
"WC kami pun juga terpanjang di Sumatera Barat pak," ujar Dewi.
Mendengar cerita dua bidan yang dikirim oleh kementeriannya, Menteri PDT Helmy Faishal Jaini berjani akan memenuhi ketersediaan fasilitas-fasilitas di daerah tersebut. Ketersediaan Listrik, alat inap bagi pasien akan diberikan pada bidan-bidan tersebut dalam tugas mereka. Hal ini menurut Helmy karena dua bidan tersebut memang bidan yang dikirim dari hasil kerja sama dengan kementerian PDT. Jadi menurutnya, tahun depan akan juga diutus tenaga bantuan serta peralatan.
"Tahun depan ada peningkatan bantuan" papar Helmy sambil meminta agar dua bidan tersebut menginventarisir kebutuhan di sana.
(tor/tor)










































