Berikut 7 perempuan di dunia yang berprofesi sebagai pilot, baik pilot pesawat sipil, pesawat aerobatik hingga pesawat tempur:
1. Patricia Mawuli
|
dok english.cntv.cn
|
"Hal ini adalah kredit besar bagi negara saya dan generasi muda yang ingin mengikuti jejak saya," kata Patricia seperti dikutip dari english.cntv.cn yang dikutip detikcom, Selasa (2/10/2012).
Patricia lahir pada tahun 1988 di Desa Mepe, 90 km dari ibukota Ghana, Accra. Saking langkanya pilot perempuan di negaranya, gadis 23 tahun itu menjadi selebriti lokal. Kini dia bekerja di Kpong Aviation Industry di Ghana.
"Hanya 6 persen dari seluruh pilot di dunia adalah perempuan. Saya pikir khusus di negara saya, itu karena perempuan tidak diberikan kesempatan," kata Patricia.
Maklum, di Ghana, para perempuan sangat konservatif, perempuan hanya bekerja di dapur, merawat anak di dalam rumah dan memasak. Namun Patricia percaya bahwa perempuan bisa lebih jauh dari itu.
"Tujuan saya untuk mengubah persepsi karena untuk mengubah pandangan itu di negara sedang berkembang butuh seseorang seperti saya. Hanya butuh satu orang," tegas Patricia.
2. Svetlana Kapanina
|
dok Wikipedia
|
Pada tahun 1995 dia lulus dari sekolah aeronautika di Kaluga, Rusia. Dia bolak-balik memenangkan Kejuaraan Aerobatk Dunia kategori perempuan pada tahun 1996, 1998, 2001, 2003 dan 2005. Dia juga memenangi World Air Game Champion pada tahun 1997 dan 2001.
Bisa dibilang Svetlana adalah jagoan pilot aerobatik perempuan di dunia.
3. Juliette Flemming
|
dok Daily Mail
|
"Saya duduk mengendalikan pesawat di sebelahnya, dia membawa saya terbang saat ulang tahun saya yang ke-17. Setelahnya dia mengatakan saya memiliki skill yang bagus dalam mengemudikan pesawat dan saya harus mengejarnya," kata Juliette seperti dilansir Telegraph.
Sejak itu dia jatuh cinta pada dunia dirgantara, dan lulus seleksi RAF. Di kesatuan militer itu tak ada diskriminasi gender yang dialaminya, Juliette juga harus melakukan tugas yang dikerjakan oleh personel laki-laki.
Pengalamannya sebagai pilot pesawat tempur membawanya ke lini depan dalam Perang Irak tahun 2008 dan Perang Afghanistan pada 2009 dengan pesawat RAF Tornado GR-4.
"Anda hanya perlu berkonsentrasi pada pekerjaan ini secepat dan seefektif yang Anda bisa. Orang-orang bertanya tentang ancaman pada Anda, tapi saya tidak begitu memikirkannya," kata Juliette yang pernah menghabiskan malam Natalnya di medan perang ini.
4. Allendia Traviana
|
dok pribadi - Twitter
|
Allendia, perempuan kelahiran Kupang, 10 November 1989 ini, awalnya bercita-cita menjadi dokter gigi. Kemudian dia juga sempat mendaftar ke Fakultas Psikologi Universitas Negeri Sebelas Maret Solo dan diterima. Karena faktor biaya, dia akhirnya memilih sekolah penerbang di Aero Flyer Institute.
Allendia mengikuti ikatan dinas dengan Batavia Air selama 16,5 tahun sejak tahun kedua di sekolah pilot itu. Kini dia menjadi satu dari dua pilot perempuan di Batavia Air dengan pesawat Boeing 737 series untuk rute domestik.
5. Basmah Bani Ahmad
|
dok arabianaerospace.com
|
Dia sampai meninggalkan studinya di bidang matematika di University of Western Ontario, Kanada untuk menekuni hobi terbangnya ini. Dia kemudian mengasah kemampuannya terbang di The Middle East Aviation Academy di Amman, Yordania untuk mengejar sertifikasi instruktur penerbangan.
Basmah kemudian bergabung di Ayla Aviation Academy di Aqaba. Pernah bekerja sebagai kepala pilot di The Royal Aero Sports Club of Jordan di Aqaba dan Wadi Rum. Karena dunia dirgantara pula, Basmah bertemu dengan pangerannya, benar-benar seorang pangeran, Pangeran Hamzah bin Al Husein, anak terakhir dari Raja Hussein dari Yordania di acara Dubai Air Show pada November 2011 lalu.
Dia percaya dunia penerbangan adalah karir yang bagus untuk perempuan. "Kami memiliki banyak keuntungan sebagai perempuan, kami bisa multi-task, dan sangat rajin. Saran saya, agar fisik tetap fit, tetap berolahraga, makan makanan yang sehat dan mungkin dengan bermain video games sesekali. Koordinasi tangan-mata sangat penting di dunia penerbangan," kata dia.
"Terbang aerobatik sangat memompa darah, menantang, mengejutkan dan tidak bisa dibandingkan dengan olahraga lain yang memacu adrenalin dan membutuhkan skill tinggi. Itu membutuhkan kemampuan yang tinggi dan sangat mengubah persepsi Anda tentang waktu. Setiap detail di aerobatik, gerakan kecil dan kompleks. Saya menyadari untuk tetap bisa bergerak dan, Anda harus sepenuhnya sadar," imbuh Basmah.
6. Sophie Blanchard
|
dok AFP
|
Sophie pertama kali menerbangan pesawat pada usia 19 tahun, saat bergabung dengan perusahan ekspedisi milik ayah tirinya. Dia kemudian bergabung di perusahaan kargo Islandia sebelum akhirnya bergabung di Etihad Airways pada tahun 2007 lalu sebagai pilot perempuan pertama.
Pada 2010, dia akhirnya menjadi kapten dalam penerbangan Airbus 330-200 tujuan Abu Dhabi - London.
"Saya sangat senang, saya bekerja di lingkungan yang sangat macho. Namun semua rekan-rekan saya sangat mendukung dan para awak kabin sangat bangga," kata ibu dua anak berusia 35 tahun ini seperti dilansir flying-school.com.
Sophia kemudian bercerita pernah mengalami penerbangan yang mendebarkan saat menjadi pilot pesawat DC 8 dengan 4 mesin.
"Seringnya saya mendarat dengan tersisa 3 mesin hidup, di bandara yang tak ada pertolongan daruratnya, tak ada listrik dan di tengah badai," kata Sophie mengenang.
7. Thalia Sheppard
|
dok The Advertiser
|
Talia bertanggung jawab atas aksi dari 18 pilot yang menjadi anak buahnya. Dia bangga mampu terbang dengan pesawat Aerostar bermesin ganda yang berkecepatan 520 km per jam.
Thalia jatuh cinta dengan dunia dirgantara pada usia 11 tahun, saat diajak terbang oleh teman orang tuanya.
"Setelah mendarat saya tahu apa yang ingin saya lakukan," kata Thalia.
Jam terbang Thalia sudah lumayan, 6 tahun, sebagian di wilayah selatan Australia, sebagai pilot pesawat carter.
"Saya ingin mencoba menerbangkan pesawat maskapai komersil atau ambulans udara," kata Thalia yang menjadi kepala pilot perempuan kedua di Australia bagian selatan setelah Felicity Brown (44) dari Ceduna.
Halaman 2 dari 8










































