Pengamat: Presiden Terpilih Sulit Lakukan Perubahan
Rabu, 08 Sep 2004 18:52 WIB
Semarang - Pengamat politik dari LIPI Yudi Latif mengatakan, janji capres Jend. (purn) Susilo Bambang Yudhoyono yang mengusung tema perubahan sulit diwujudkan bila terpilih nanti. Pasalnya, siapapun capres terpilih nanti bakal menghadapi hambatan struktural."Kalau di Perancis masih lumayan. Mereka mempunyai PM dan presiden.PM menyimbolkan kehendak partai, sedangkan presiden sebagai penyangga kekuasaan. PM dapat dijatuhkan sewaktu-waktu jika koalisi tak dapat dipertahankan, sedangkan presiden pasti menjabat selama lima tahun."Demikian kata Yudi sebelum menjadi pembicara Seminar KAMMI "Menuntas Fase Transisi yang Tersendat" di Gedung Wanita Jateng, Jl. Sriwijaya Semarang, Rabu (8/9/2004).Hambatan struktural itu, menurutnya, terlihat dari banyaknya masalah sistemik dalam politik Indonesia. Misalnya, dalam sistem presiden langsung dengan prinsipmulti partai jelas-jelas menomorsatukan kehendak partai. "Kehendak rakyat berada di urutan berikutnya," ujarnya.Di Indonesia, lanjut dia, yang paling menonjol adalah negosiasi antar elitpolitik. Itu bisa dilihat dari munculnya koalisi-koalisi menjelang pilpresputaran kedua. "Presiden terpilih tak mungkin bisa meninggalkan dukunganpartai yang berkoalisi dengannya. Mereka pasti balas jasa dalam penentuankabinet nantinya," papar Yudi.Dikatakan Yudi, hambatan struktural lainnya adalah permainan kapital (modal)dalam politik pilpres. Dalam sistem presiden langsung kepentingan pemodalsangat besar. "Mereka pasti akan beramai-ramai dukung ini itu dengan harapanpenyelamatan dan pengembangan usahanya di kemudian hari," tukasnya.Sebaliknya, tandas Yudi, dalam sistem pemilihan tak langsung, para kandidat tak banyak mengeluarkan dana. "Mereka hanya perlu mengeluarkan dana bagi elit-elitnya saja," ujarnya.Yudi menambahkan, di sisi lain konglomerasi merupakan lokus korupsi terbesar."Tak mungkin presiden terpilih berani membuka aib suatu konglomerasi jikamereka membantu banyak atas keterpilihannya. Dengan demikian, meski adapenyelewengan, keduanya tetap akan saling menjaga," tuturnya.
(ton/)











































