Lima desa tersebut adalah Desa Kilo Tiga, Lopana, Rumoong Bawah, Buyungon dan Desa Ranoyapo dan berada di sepanjang bantaran sungai terbesar di Sulut ini.
Tidak ingin menjadi korban, warga kemudian beramai-ramai mencari dan berusaha menangkap buaya tersebut. Pencarian reptil berkulit keras ini melibatkan beberapa anggota TNI, dengan menyusuri bantaran sungai sampai ke perkebunan warga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mamoto menuturkan, beberapa tahun lalu, dua warga sempat menjadi korban terkaman buaya di sungai Ranoyapo, yaitu Nevil Ludong, warga Desa Rumoong Bawah dan Kendy Ulaan, warga Desa Buyungon.
“Nevil diterkam tangannya karena menjinjing ayam saat pulang dari kebun, sedangkan Kendy terkena pahanya waktu memasang perangkap ikan di sungai Ranoyapo,” paparnya.
“Kalau ternak seperti kuda, ayam, bebek dan lainnya sudah banyak dimakan buaya itu,” tambah Mamoto.
Lokasi pencarian buaya tersebut terbilang cukup jauh. Karena harus melewati perkebunan yang jauh dari pemukiman warga, serta hanya bisa dijangkau dengan sepeda motor dan jalan kaki.
Meski belum berhasil menangkap buaya ini, warga telah memasang perangkap dimana hewan berdarah dingin ini sering terlihat warga ketika melintas di bantaran sungai, maupun di perkebunan.
(ega/ega)










































