Harus Diusut, BUMN Sumbang Kuis Mega Sukarela atau Ditekan
Rabu, 08 Sep 2004 15:30 WIB
Jakarta - Terlepas ada atau tidaknya unsur kampanye dalam penyelenggaraan Kuis Mega Fakta berhadiah Rp 14,1 miliar, dari segi materi, kuis yang bertajuk "Indonesia Sukses" itu cenderung menguntungkan capres PDIP, Megawati. Karenanya, orang-orang PDIP harus berterima kasih kepada pembuatnya, yaitu Yayasan IMM (Investigasi, Mediasi, dan Monitoring).Demikian dikatakan pengamat politik LIPI Ikrar Nusa Bakti sesaat sebelum menjadi pembicara Seminar KAMMI Semarang "Menuntaskan Fase Transisi Yang Tersendat" di Gedung Wanita Jateng, Jl. Sriwijaya Semarang, Rabu (8/09/2004). "Bagi saya, kuis itu jelas kampanye politik. Dan jika saya anggota PDIP saya pasti akan katakan, saya senang sekali dengan pembuat kuis itu. Kuis itu telah mendukung langkah saya (memenangkan Mega). Tapi kelihatannya orang-orang PDIP masih malu-malu," kata Ikrar.Meski Meneg BUMN Laksamana Sukardi membantah adanya keterlibatan BUMN, Ikrar menyatakan perlunya menelusuri apakah BUMN yang diduga terlibat itu memberikan dana secara sukarela untuk menunjukkan kesuksesannya atau ada tekanan dari pemerintah. Hal itu penting untuk mengetahui duduk perkara kemunculan kuis tersebut.Lebih lanjut, lelaki yang menjabat Ketua Departemen Politik LIPI ini menegaskan, tidak hanya Mega - Hasyim saja yang terlibat dalam "kampanye terselubung", tapi SBY - Kalla juga. "SBY atau Kalla kan juga sering melakukan gerak jalan bersama, jalan sehat, dan pertemuan dengan kelompok ini itu. Itu termasuk kampanye," terangnya.Hanya saja, kata dia, kegiatan-kegiatan semacam itu tidak bisa ditindak. UU Pemilu tak akan sanggup menjadi landasan yuridis untuk menjerat pelakunya. Karena, KPU telah mendefinisikan kampanye sebagai kegiatan yang memenuhi lima unsur secara kumulatif. Kalau tidak memenuhi definisi itu, segala tindakan tim kampanye aman-aman saja.Ikrar juga menyalahkan DPR yang telah membuat undang-undang berisi pilpres putaran kedua tidak ada kampanye politik. Yang ada hanyalah penegasan visi-misi dan dilakukan selama 14 - 16 September mendatang. Di lain pihak capres butuh dikenal sebanyak mungkin orang, sehingga mereka berkampanye tanpa pernah melanggar aturan.Ketika ditanya di antara dua capres siapa yang paling mungkin melakukan pembaharuan, Ikrar menyatakan keduanya sama-sama tidak bisa diharapkan. Dikatakannya, pembuat kecap pasti bilang kecapnya No 1."Tidak akan ada yang bilang, wah pendukung saya kok sedikit ya. Semuanya pasti bilang saya menguasai ini itu. Sebagaimana Hasyim yang mengatakan telah menguasai kantung NU Jatim kemarin," tukasnya. Di akhir wawancaranya, Ikrar sempat mengatakan kesedihannya atas meninggalnya aktivis HAM, Munir. "Saya kehilangan teman, terutama teman diskusi. Munir adalah teman diskusi terbaik bagi saya," demikian Ikrar.
(nrl/)











































