"Saya sudah beberapa kali datang ke Beijing. Dan kedatangan saya kali ini, kota ini semakin maju. Pembangunannya semakin menakjubkan," kata Prof Dewi Fortuna Anwar, pengamat internasional dari LIPI, saat tiba di Beijing, Minggu (16/9/2012) lalu.
Sebelumnya, Dewi sudah beberapa kali ke kota yang pada zaman 1960-an lalu dikenal sebagai kota Peking itu. Terakhir, dia datang ke kota Beijing sebelum ada perhelatan Olimpiade 2008 lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
China memang sudah membuka diri sejak tahun 1990-an, namun semakin dahsyat setelah Olimpiade 2008. Saat menyambut Olimpiade, China membangun stadion yang sangat megah berdesain 'sarang burung' yang diberi 'Bird's Nest'. Di samping stadion itu, dibuat hotel mewah dengan desain kepala naga untuk menampung para atlet dari berbagai negara.
Stadion ini hingga kini masih berdiri kokoh. Setiap hari stadion ini selalu ramai dengan para wisatawan, baik wisawatan asing maupun domestik. Tidak mengenal hari libur. Mayoritas memang warga China. Mereka datang dari pelosok-pelosok, seiring semakin meningkatnya perekonomian China. Padahal, untuk masuk ke stadion ini, tiketnya terhitung cukup mahal: 70 RMB (sekitar Rp 105.000).
Selain dari bangunan-bangunan yang tinggi dan megah, suasana kota yang ramai juga semakin melebar. Saat ini, area yang dua tahun lalu masih kumuh dan terlihat tidak ramai, sekarang menjadi ramai dengan bangunan-bangunan baru. Proyek-proyek pembangunan infrastruktur dan properti juga masih digenjot di sana-sini, meski pertumbuhan ekonomi tidak sedahsyat sebelumnya karena imbas dari krisis Amerika dan Eropa.
Yang sangat berubah adalah kondisi jalan-jalan raya. Sejak tahun 1990-an, Beijing memang sudah dibangun jalan-jalan yang sangat lebar. "Dulu saya terakhir ke sini, jalan memang sudah lebar, tapi masih relatif kosong dengan mobil-mobil," kata Dewi Fortuna.
Saat ini, jalan-jalan utama di kota Beijing sangat padat dengan mobil-mobil, termasuk saat akhir pekan. Kemacetan sering tak terhindarkan. Mobil-mobil yang berseliweran juga bukan mobil-mobil ecek-ecek. Mobil-mobil merek Jepang dan Eropa yang mewah sangat gampang ditemui. Menemukan mobil merek Bentley misalnya, sangat mudah.
Perubahan-perubahan Beijing tidak hanya pada fisik kotanya. Kebiasaan buruk warga China juga sudah mulai berubah. Meludah dan membuang sampah sembarang misalnya, sudah tidak terlalu banyak ditemui. Pemerintah Beijing menerapkan denda yang cukup berat bagi warga yang meludah dan membuang sampah sembarangan. Alhasil, kota Beijing juga terlihat lebih bersih.
Masih banyak perubahan lain yang menakjubkan di Beijing. Intinya kota ini sudah terlihat sangat moderen dan terbuka. Karena itu juga, pemerintah Indonesia semakin ingin mempererat hubungan diplomatik dan dagang dengan pemerintah China. Volume perdagangan China ke Indonesia sudah mencapai US$ 62 miliar tahun lalu, sudah melebihi target. Nilai investasi China ke Indonesia tahun lalu juga mencapai US$ 1,2 miliar. Kini, China menjadi negara Ekonomi ke-2 terbesar di dunia, setelah Amerika Serikat (AS).
(nrl/vit)