Inspektur Dua (Ipda) Raja Harahap bersama belasan anggota satuan Direktorat Narkoba Polda Aceh berangkat pagi buta menuju salah satu puncak Gunung Seulawah, Kamis (27/9/2012). Informasi yang diterima pihaknya, terdapat ladang ganja siap panen di puncak gunung tersebut. Raja dan tim memutuskan berangkat pagi agar mencapai sasaran tepat waktu dan dapat menangkap para petani yang dikabarkan sibuk memetik, mengeringkan, dan mengemas ganja.
Bersenjata lengkap sang perwira pertama kepolisian itu berangkat memimpin personel yang turut serta dalam penyergapan. Mereka harus berjalan mengendap-endap agar gerak-gerik mereka tidak diketahui. Selain itu kewaspadaan juga diperlukan selama perjalanan menuju lokasi yang disasar. Maklum, kawasan tersebut masih banyak dihuni harimau dan gajah. Belum lagi 'godaan' lebah hutan yang dapat menyengat dan berdampak panas dingin ke tubuh yang digigitnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jalanan yang penuh dengan lumpur memaksa kendaraan 4 wheel drive yang ditumpangi ekstra kerja keras untuk melaluinya. Penumpang yang duduk di belakang bak kendaraan terpaksa harus terpental-pental ketika kendaraan berupaya menapaki jalan penuh lumpur itu. Waktu yang dihabiskan untuk menuju lokasi transit sekitar 30 menit dan kemudian mulai menempuh jalanan menanjak dan tebing curam.
Saat tiba di puncak, tim melihat lima orang petani tengah menggunting satu persatu daun ganja dari batangnya dengan menggunakan gunting. Namun, saat berjarak sekitat 30 meter, para petani berlarian.
"Suasana hutan senyap, mungkin mereka mendengar tanda dahan patah terinjak dan langsung berlarian," kata Raja, kepada detikcom, di lokasi ladang ganja, Pegunungan Seulawah, Desa Pulo, Kampung Lamteuba, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar, Kamis (27/9/2012).
Mereka berlarian tunggang langgang terpencar. Polisi memberikan tembakan peringatan agar mereka diam di tempat, namun upaya itu gagal. Mereka pun lolos dari sergapan.
"Saat penyergapan ada sekitar lima orang, namun gunting yang ditemukan untuk memotong daun ada 12," ujarnya.
Tim menemukan belasan karung ganja kering yang sudah dikeringkan di sebuah tenda terpal biru. Tidak jauh dari lokasi juga ditemukan deretan ganja yang tengan dikeringkan.
Dalam penyergapan itu ganja tumbuh subur di atas tanah seluas 11 hektare. Bila tidak segera digagalkan, ton-nan ganja kering beredar di masyarakat luas. Bayangkan saja, 1 kg ganja kering di dapat dari 7 tanaman dan 1 hektare dapat ditumbuhi 7-8 ribu ganja.
Menurut Deputi Penindakan BNN, Brigjen Pol Benny J Mamoto, Aceh masih urutan teratas penghasil ganja di Indonesia. Hingga 22 September 2012, 83,5 hektar ladang ganja diungkap. "Aceh masih nomor satu, disusul kawasan Madina (Mandailing Natal, Sumut)," kata Benny.
Berbagai cara terus dilakukan untuk menberantas ladang ganja di Aceh, ke depan, BNN akan memanfaatkan teknologi satelit untuk memetakan ladang-ladang ganja. Ini dilakukan karena ladang tersebut biasanya berada di lereng-lereng pegunungan yang tidak terjamah oleh masyarakat karena terjalnya medan pendakian.
"Diharapkan dengan hasil pemetaan itu dapat dengan mudah mengidentifikasi, menentukan koordinat, supaya tidak sulit menyasar ke ladang yang menjadi target pemberantasan," terang Benny.
Sekilas cerita, Seulawah juga disematkan untuk pesawat angkut pertama milik Indonesia dengan nama Dakota RI-001. Pesawat jenis Dakota DC-3 ini mampu terbang dengan kecepatan maksimum 346 km/jam. Pesawat ini pula yang menjadi cikal penerbangan angkut pertama, Indonesi Airways.
Dinamai Seulawah karena sebagai bentuk penghargaan Presiden RI kepada rakyat Aceh yang menyumbang 5 kilogram emas dan sejumlah uang yang kemudian dibelanjakan pesawat.
(ahy/mad)










































