Tedjowulan Terima Pisowanan Pendukungnya
Rabu, 08 Sep 2004 01:17 WIB
Jakarta - Selasa (7/9/2004) petang hingga tengah malam Tedjowulan menerima pisowanan para pendukungnya. Dengan tegas mereka menyatakan dukungan sepenuhnya bagi Tedjowulan sebagai raja, bahkan sepanjang pertemuan mereka selalu menyebut Tedjo sebagai Sinuhun Paku Buwono (PB) XII.Ratusan pendukung itu duduk lesehan memenuhi pendopo kediaman Mooryati Soedibyo di Jalan Muwardi Solo, yang selama ini menjadi 'istana' Tedjowulan karena belum berhasil masuk kraton karena dikuasai kubu Hangabehi. Selain dari Solo dan sekitarnya, para pendukung itu juga datang dari berbagai kota seperti Pati, Kudus, maupun beberapa kota di Jawa Timur.Profesi mereka pun beragam. Ada yang dosen, budayawan, seniman, penghayat kepercayaan, paranormal, anggota parpol serta tokoh-tokoh masyarakat. Tedjowulan menemui mereka dengan ikut duduk lesehan sambil mendengarkan presentasi dua sejarawan UNS yang membahas mengenai suksesi di Kraton Mataram.Sudharmono, sejarawan UNS mengatakan bahwa semakin meluasnya dukungan bagi Tedjowulan menunjukkan bahwa Tedjo telah mendapatkan legitimasi kuat dari kawula-nya. Menurutnya, jika terjadi sebuah ketegangan dalam kepemimpinan yang saling berhadap-hadapan maka yang secara de facto didukung rakyatlah yang akhirnya akan berkuasa.Pendapat tersebut didukung oleh Tundjung W Sutirto, yang juga dosen sejarah UNS. Dipaparkannya dalam sejarah dinasti Mataram telah terjadi empat kali penobatan raja di luar istana karena sedang terjadi perebutan tahta, yaitu Amangkurat II, Paku Buwono I, Paku Buwono III, dan Paku Buwono XIII."Dalam caratatan sejarah justru yang dinobatkan di luar kraton lah yang akhirnya memenangkan dan bertahta secara penuh. Hal itu terjadi karena penobatan di luar kraton justru bisa menunjukkan bahwa raja itu mendapat dukungan penuh dari rakyat. Selain itu dia jauh lebih siap secara lahiriah dan batiniah dibanding yang mengisolir di dalam tembok kraton," ujarnya.Sedangkan kepada wartawan seusai acara, Tedjowulan memaparkan bahwa pihaknya akan terus berjiwa lapang dan berbesar hati menghadapi persoalan suksesi yang berlarut-larut tersebut. Namun agar tidak terjadi kebingungan pada masyarakat, dia berjanji akan segera menyelesaikan persoalan secara damai tanpa kekerasan, karena pada prinsipnya tidak pernah ada raja kembar.
(dni/)











































