Massa Anti-Hangabehi Kembali Gelar Aksi
Selasa, 07 Sep 2004 18:02 WIB
Solo - Ratusan orang yang menolak Hangabehi dinobatkan sebagai Paku Buwono (PB) XIII kembali menggelar aksi. Mereka mendatangi gedung DPRD Kota Solo untuk menyampaikan aspirasinya. Namun rencana menggelar aksi di kraton diurungkan atas permintaan polisi. Sedangkan pintu utama kraton kembali ditutup.Sekitar 150 orang itu datang berjalan kaki menuju gedung DPRD Solo Jl. Adi Sucipto, Solo, Selasa (7/9/2004) siang. Mereka menolak Hangabehi dinobatkan sebagai PB XIII atas dasar moralitas dan kemampuannya yang dianggap tidak memadai.Di antara poster yang mereka bawa terdapat tulisan 'Selamatkan Budaya Kraton Surakarta', 'Tolak Gusti Hangabehi Sebagai Raja', 'Harta Kraton = Harta Rakyat', 'Raja Pemabuk = Rakyat Pemabuk, Raja Bodoh = Rakyat ....'Setelah melakukan orasi-orasi selanjutnya beberapa perwakilan masuk ke ruang pimpinan dewan. Di ruangan itu mereka ditemui oleh pimpinan dan beberapa anggota DPRD, Kapolresta Solo AKBP Lutfi Lubihanto, dan Dandim Solo Letkol M Effendi.Salah seorang perwakilan aksi yang mengaku bernama Nur Santi mendesak agar DPRD segera mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan kraton beserta asetnya dari imbas perseteruan suksesi pasca-mangkatnya PB XII. Selain itu dia juga menyatakan penolakan terhadap rencana penobatan Hangabehi sebagai PB XIII karena dinilai tidak memiliki kecakapan sebagai pemangku adat.Pimpinan sementara DPRD Kota Solo Farid Badres dan Alqaf Hudaya hanya bisa menjanjikan akan menampung aspirasi itu untuk dibahas bersama seluruh anggota dewan. Sedangkan Kapolresta meminta seluruh elemen masyarakat ikut menciptakan suasana kondusif dan menunggu upaya penyelesaian yang sedang dilakukan kedua kubu di kraton bersama Muspida Kota Solo.Atas saran Kapolresta itu, Nur Santi justru meminta agar polisi menindak orang-orang yang melakukan penjagaan ketat di pintu utama kraton yang dinilai meresahkan dan mengganggu aktivitas warga sekitar kraton. "Mereka bukan warga setempat dan juga bukan kerabat kraton. Tapi polisi tetap mendiamkannya, juga ketika mereka menutup seluruh pintu kraton," sergah Nur Santi.Pintu Kraton Kembali DitutupDari DPRD, semula mereka akan bergabung dengan ratusan orang lainnya yang telah menunggu di Alun-alun Utara Kraton untuk bergerak bersama masuk ke dalam kraton. Namum polisi melarang dan mengancam akan bertindak tegas jika mereka tetap melakukan aksi di kraton. Akhirnya massa dari DPRD maupun yang sudah di Alun-alun membubarkan diri.Sementara itu, kubu Hangabehi yang masih menguasai kraton kembali menutup pintu utama masuk kraton, yaitu Kori Brajanala yang merupakan jalan umum. Namun tidak seperti saat penobatan Tedjowulan 31 Agustus lalu, penutupan pintu kali ini masih memberi kesempatan warga umum yang berjalan kaki dan bersepeda motor untuk lewat, sedangkan kendaran roda empat tetap dilarang masuk.Sekretaris panitia penobatan Hangabehi, Eddy Wirabhumi, mengatakan penutupan pintu utama kraton itu dilakukan untuk menghindari hal buruk yang kemungkinan terjadi. "Hanya langkah penutupan pintu inilah yang bisa kami lakukan. Ini dampak dari persoalan yang selama ini terjadi," ujar salah satu menantu mendiang PB XII tersebut.
(asy/)











































