Biografi Munir:
Musuh Pelanggar HAM Telah Tiada
Selasa, 07 Sep 2004 17:40 WIB
Jakarta - Siapa tak tahu Munir? Sulit dibantah sangat sedikit sekali orang yang tidak tahu siapa pria berambut bule itu. Namanya identik dengan perjuangan hak asasi manusia (HAM), isu sensitif di era modern ini.Munir mulai moncer tahun 1998-an. Kala itu dia banyak disorot media massa karena keberaniannya mengadvokasi kasus penculikan aktivis. Nyaris saban hari Munir yang membawa bendera Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) itu menghiasi berita di televisi. Sosoknya tak lepas dari sifat cerdas dan berani.Saking beraninya membeberkan pelanggaran HAM yang dilakukan aparat negara, banyak kalangan bertanya-tanya, siapa di belakang pria berbadan kecil itu? Tapi hingga kini tidak ada jawaban pasti. Munir hanya menyebut bahwa pendorongnya adalah justru istri tercintanya.Siapa Munir sebenarnya? Pria keturunan Arab ini lahir di Malang, pada Rabu, 8 Desember 1965. Gelar sarjana hukumnya diraih di Universitas Brawijaya (Malang) pada 1989. Pada 1989, Munir masuk ke LBH Malang sebagai sukarelawan, lalu memutuskan total sebagai orang LBH. Pada tahun 1995, Munir mendapat promosi menjabat sebagai Direktur LBH Semarang selama tiga bulan. Lalu ditarik ke YLBHI, Jakarta, merangkap sebagai Koordinator Kontras pada 1998. Menikah dengan Suciwati, Munir dikaruniai seorang anak bernama Sultan Alif Allende (5) dan Difa (2). Ditengarai karena kevokalannya, rumah Munir di Jl Diponegoro 169 kawasan wisata Kotatif Batu Malang, (kampung halamannya) diteror bom, Senin (20/8/2001). Dan berkat kevokalannya juga, Munir mendapatkan sejumlah penghargaan, antara lain Yap Thian Hien Award dari Yayasan Pusat HAM dan penghargaan dari UNESCO (Badan PBB untuk Ilmu Pengetahuan, Pendidikan dan Kebudayaan) karena dinilai berjasa memperjuangkan HAM di Indonesia.Lengser dari Kontras, Munir mendirikan lembaga HAM sejenis bernama Indonesian Human Rights Monitor alias Imparsial. Di tengah kesibukannya memperjuangkan HAM, Munir juga bersimpati pada perjuangan Amien Rais, yang mencapreskan diri pada Mei lalu. Tak ayal, Munir pun sempat menjadi salah satu bintang iklan kampanye Amien Rais versi testimoni.Belakangan, Munir banyak bicara soal RUU TNI yang tengah digodok DPR dan pemerintah. Sembari menyorotinya, Munir mempersiapkan keberangkatannya untuk sekolah S-2 bidang Hukum Humaniter di Universitas Utrecht, Belanda. Dan Senin malam (6/9/2004), Munir terbang ke Negeri Kincir Angin untuk mengejar cita-cita. Namun tiga jam sebelum mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam, atau pada Selasa pagi (7/9/2004), Yang Maha Pengasih mengambilnya.Selamat jalan, Cak Munir!
(nrl/)











































